Ruang Press - Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat terhadap fasilitas Iran. Sebagai respons, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz dan memperketat pengawasan jalur ekspor energi di kawasan tersebut.
Serangan bertubi-tubi yang diluncurkan oleh Amerika Serikat ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran dalam mengganggu pelayaran internasional. Dalam pernyataan resmi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan AS dan siap mempertahankan haknya.
Qalibaf menyatakan bahwa ancaman Iran tidak hanya berlaku untuk Selat Hormuz, tetapi juga mencakup jalur-jalur ekspor energi lainnya. Sementara itu, Pentagon menyatakan bahwa operasi militer mereka bertujuan untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan mengurangi ancaman dari Iran. Serangan diarahkan pada sistem pertahanan pantai dan instalasi militer yang dianggap berpotensi mengganggu perdagangan internasional.
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran vital, dengan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melalui selat ini. Meningkatnya ketegangan membuat perusahaan pelayaran dan asuransi maritim menaikkan biaya operasional karena risiko keamanan. Investor juga mulai memburu aset aman, dan harga minyak dunia mengalami kenaikan. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak berpotensi merasakan dampak melalui kenaikan biaya impor dan inflasi. Pengamat menilai bahwa penyelesaian diplomatik adalah jalan terbaik untuk mencegah konflik lebih luas yang dapat mempengaruhi perekonomian global.