Joko Anwar Sajikan Kritik Sosial Lewat Film Horor Komedi Ghost in the Cell
Ruang Press - MUDANESIA - Sutradara Joko Anwar kembali menghadirkan film dengan lapisan makna sosial lewat karya terbarunya berjudul Ghost in the Cell. Film horor komedi produksi Come And See Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April dan mengangkat latar penjara sebagai ruang utama cerita.
Bagi Joko Anwar, penjara bukan sekadar lokasi, melainkan metafora kehidupan masyarakat. Di dalamnya tergambar relasi antara penguasa dan warga, lengkap dengan aturan, konflik, serta dinamika kekuasaan yang saling berkelindan. Ia menyebut penjara sebagai miniatur sosial yang mencerminkan realitas di luar tembok sel.
Proses produksi film ini terbilang tidak biasa. Produser Tia Hasibuan mengungkapkan bahwa syuting berjalan sangat efisien berkat jumlah adegan yang relatif sedikit, meski naskahnya tebal. Pendekatan visual yang banyak menggunakan teknik long one shot membuat setiap adegan terasa padat dan intens.
Dari sisi akting dan visual, Abimana Aryasatya menyebut suasana penjara dalam film ini terasa nyata dan menekan. Set penjara dirancang menyeluruh, lengkap dengan pencahayaan yang mendukung emosi cerita, sehingga aktor benar-benar “hidup” di dalam ruang tersebut.
Selain horor dan komedi, film ini juga menyentuh isu kebebasan pers melalui karakter jurnalis yang berisiko menghadapi intimidasi. Setelah melakukan pemutaran perdana dunia di Festival Film Internasional Berlin 2026 dan mendapat sambutan positif, Ghost in the Cell kini siap menjangkau penonton global melalui distribusi internasional.***




