Ruang Press - Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, meninjau penerapan sistem tanam pagar dan Pupuk Hayati Cair (PHC) di Kebun Induk Hanakau, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Liwa. Dua inovasi ini diklaim dapat melipatgandakan populasi tanaman kopi dan meningkatkan produktivitas secara signifikan dibandingkan metode konvensional.
Kebun Induk Hanakau, yang dikelola oleh UPTD Balai Benih dan Kebun Induk Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, berfungsi sebagai pusat percontohan dan penelitian benih kopi unggul. Di lokasi ini, berbagai klon robusta dan lokal sedang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi di Lampung Barat, yang merupakan penyumbang terbesar produksi kopi di provinsi ini.
Penerapan sistem tanam pagar di lahan seluas 1 hektare memungkinkan populasi tanaman kopi mencapai 4.000 batang per hektare, dua kali lipat dari metode konvensional. Dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP), produktivitas dapat mencapai 4 hingga 6 ton per hektare. Sementara itu, PHC sebagai pupuk organik yang diujicobakan sejak 2025, mempercepat masa panen kopi dari tiga tahun menjadi 1,5 hingga dua tahun. Inovasi ini juga meningkatkan kualitas daun, ukuran buah, dan kesuburan tanah.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyatakan bahwa sistem pagar dan PHC merupakan upaya untuk memperkuat daya saing sektor perkebunan dan meningkatkan pendapatan petani. Lampung tercatat sebagai provinsi penghasil kopi terbesar kedua di Indonesia, dengan Lampung Barat menyumbang produksi terbesar di antara kabupaten lainnya.