Ruang Press - RRI.CO.ID, Kupang- Sektor peternakan di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi luar biasa yang belum tergarap maksimal. Selama ini, masyarakat cenderung menjual hasil ternak dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah, padahal, melalui sentuhan inovasi dan teknologi sederhana, produk peternakan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pelaku UMKM.
Hal ini disampaikan oleh Albertus Lake, S.Tr.Pt, Mahasiswa Magister Ilmu Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) sekaligus Awardee LPDP RI PK-270, dalam Obrolan Akamsi RRI Pro 4 Kupang Selasa, 10 Maret 2026. Albertus menjelaskan bahwa perbedaan harga antara bahan mentah dan produk olahan sangatlah mencolok, sebagai contoh pada produk Se’i, kuliner khas NTT yang lebih bernilai ekonomi tinggi dibandingkan produk mentah.
"Daging mentah sekarang harganya kisaran Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Namun, setelah diolah menjadi Se’i, harganya bisa melonjak menjadi Rp250.000. Ada peningkatan nilai hingga 150%," ujarnya.
Menurutnya, peluang ini sangat terbuka lebar karena di NTT belum banyak pesaing yang fokus pada produk olahan turunan peternakan dibandingkan dengan di daerah lainnya di Indonesia. Meski menjanjikan, Albertus menyoroti beberapa tantangan yang dihadapi UMKM, terutama terkait pengetahuan teknik pengolahan yang benar dan higienitas.
Ia menekankan pentingnya memperhatikan penggunaan bahan tambahan pangan seperti zat pengawet (natrium nitrat/salpeter). "Penggunaan bahan kimia untuk mempertahankan warna merah pada daging sering kali melebihi dosis. Ini berbahaya bagi kesehatan jangka panjang, seperti risiko kanker," tegasnya.
Ia menyarankan agar pelaku UMKM mulai beralih ke metode pengolahan yang lebih organik dan sesuai standar riset ilmiah agar mendapat kepercayaan publik. Jika harus menggunakan bahan tambahan, seharusnya tidak melebihi takaran yang telah ditetapkan aturan kesehatan.
Untuk mewujudkan NTT sebagai "Gudang Ternak" yang sesungguhnya, Albertus menekankan perlunya sinergitas antara tiga pihak utama, seperti pemerintah, akademisi dan pelaku UMKM. Pemerintah dapat memberikan dukungan modal, fasilitas teknologi pertanian modern, dan kebijakan yang mendorong setiap kabupaten memiliki satu produk UMKM unggulan sebagai ikon daerah, sementara itu pihak akademisi melakukan riset dan pendampingan ilmiah agar produk UMKM memiliki standar kualitas dan keamanan pangan yang terjamin, dan UMKM/generasi muda harus berani keluar dari zona nyaman dan membangun kolaborasi atau partnership ketimbang bekerja secara individual.
Sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP pertama di Undana, Albertus juga mengajak generasi muda NTT untuk terus melanjutkan studi ke jenjang magister atau doktor. Ia menginformasikan bahwa Undana kini telah masuk dalam daftar kampus unggulan LPDP, sehingga putra-putri daerah tidak harus ke luar NTT untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
"Gunakan kesempatan beasiswa ini sebagai pintu masa depan. Persiapkan diri dengan baik, terutama dalam penulisan esai yang menunjukkan kontribusi nyata bagi daerah," katanya menegaskan. (JR)