Harga BBM Indonesia Terancam Naik Akibat Konflik Iran-Israel
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Harga BBM Indonesia Terancam Naik Akibat Konflik Iran-Israel

JAKARTA, KOMPAS.com - Eskalasi perang Iran dan Israel bisa mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran 67 dollar AS per barrel, kini telah menembus level 80 dollar AS per barrel.

Jika konflik meluas dan Selat Hormuz tetap ditutup, harga minyak bahkan berpotensi melesat hingga 100 dollar AS per barrel. Dampaknya, Indonesia sebagai negara pengimpor bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar harus bersiap menghadapi tekanan fiskal dan potensi mengalami kenaikan harga BBM.

Pengamat Energi dan Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengatakan lonjakan harga minyak sudah terjadi sejak serangan pertama dalam konflik di Timur Tengah. Bila eskalasi perang semakin luas, maka makin memperburuk situasi, imbasnya harga minyak dunia berpotensi naik ke level 100.000 dollar per barrel.

“Ya yang jelas serangan pertama itu sudah menaikkan harga minyak, harga minyak dunia jadi 67.000 dollar AS dan sekarang sudah menebus sekitar 80.000 dollar AS. Dan kalau eskalasi perang tadi meluas itu pasti akan memicu kenaikan yang lebih tinggi lagi, bahkan ya menutup kemungkinan itu sampai 100.000 dollar AS barrel per hari itu ya, itu ada kemungkinan itu,” ujar Fahmi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Pada perdagangan Jumat kemarin, harga minyak mentah Brent ditutup di level 72,48 dollar AS per barrel, naik 2,45 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,78 persen ke posisi 67,02 dollar AS per barel.

Adapun, Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi lebih dari 3 juta barrel per hari pada Januari 2026.

Negara Republik Islam ini juga memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital dalam perdagangan minyak dunia.

Selain lonjakan harga, penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai menjadi ancaman serius bagi rantai pasok global. Selat tersebut merupakan jalur vital pengangkutan minyak, gas, dan berbagai komoditas dunia. Gangguan di jalur ini tidak hanya memukul kawasan Timur Tengah, tetapi juga berdampak luas ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Fahmy menjelaskan, Indonesia masih mengandalkan impor minyak sekitar 1,2 juta barrel per hari. Sebagai net importer BBM, kenaikan harga minyak dunia otomatis memperbesar beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.

“Kalau mencapai 80.009 dolar per barrel, maka Indonesia sebagai net importer BBM, khususnya BBM dalam jumlah yang besar 1,2 juta barrel per hari, ini akan membengkak APBN. Apalagi itu untuk subsidi, subsidi makin berat,” paparnya.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit. Untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax dan sejenisnya, harga relatif bisa langsung disesuaikan mengikuti harga pasar.

Namun untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar, keputusan kenaikan harga menjadi sangat sensitif.

Menurutnya, jika harga BBM subsidi tidak dinaikkan, beban subsidi akan membengkak dan menekan fiskal negara. Sebaliknya, jika dinaikkan, dampaknya bisa memicu inflasi, menurunkan daya beli masyarakat, dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Nah model semacam itu Indonesia dihadapkan pada pilihan yang sulit gitu,” beber Fahmi.