Ruang Press - Indonesia mencatatkan realisasi investasi yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meskipun produktivitas tenaga kerja masih rendah. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam memastikan bahwa investasi yang masuk dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.
Pemerintah Indonesia berhasil mencapai target investasi yang ditetapkan, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Capaian ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menarik bagi investor. Namun, besarnya arus modal tidak berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas dan daya saing ekonomi.
Laporan dari Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan bahwa tantangan Indonesia saat ini adalah bukan hanya menarik investasi, tetapi juga memastikan investasi mampu memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan produktivitas, dan mendorong daya saing industri. Tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dan produktivitas tenaga kerja yang rendah menunjukkan bahwa kualitas investasi perlu ditingkatkan. Produktivitas tenaga kerja Indonesia meningkat dari Rp 79,68 juta per tenaga kerja pada 2016 menjadi Rp 92,67 juta pada 2025, tetapi masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
Indonesia berada di peringkat kelima di kawasan ASEAN dan peringkat ke-111 dunia dalam hal produktivitas tenaga kerja, yang berarti output ekonomi per pekerja masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Hal ini berdampak pada efisiensi investasi yang masuk, di mana seharusnya produktivitas mampu meningkatkan efisiensi dan menurunkan ICOR, tetapi kenyataannya menunjukkan sebaliknya.