Ghost In the Cell: Satir Sosial dalam Balutan Horor-Komedi
Ruang Press - SUTRADARA Joko Anwar merilis film satir sosial-politik bertajuk Ghost In the Cell. Film ini dikemas komedi yang dibalut horor-thriller. Film produksi Come and See Pictures ini akan banyak memfokuskan cerita pada latar kehidupan narapidana di dalam penjara.
Menurut penuturan Joko, latar tersebut ia pilih sebagai representasi miniatur kehidupan masyarakat yang "terpenjara". "Ada petugas lapas sebagai pemerintahnya, para napi sebagai warga negara, dan petugas keamanan sebagai polisi," ucapnya saat merilis trailer di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan pada Senin, 23 Februari 2026.
Hierarki dalam penjara tersebut, kata Joko Anwar, membentuk gambaran terkait dinamika realita sosial yang kuat antara masyarakat dan penguasa. "Makanya kita pilih penjara untuk merepresentasikan kehidupan kita," ujarnya seraya membenarkan bahwa gambaran tersebut tampak jelas dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini.
Ghost In the Cell Suarakan Trauma Kolektif Bangsa
Isu sosial yang hendak diangkat dalam film Ghost In the Cell berkaitan dengan penindasan terhadap rakyat di bawah kendali sistem yang mencengkeram. Isu tersebut juga diakui Joko merupakan hal universal dan tak hanya terbatas di Indonesia semata. "Semua orang di seluruh dunia khawatir tentang sistem dan berpikir bahwa sistem tidak berpihak ke rakyat tetapi berpihak ke elite," kata dia menambahkan.
Joko menuturkan, ia masih konsisten dan sejalan dengan karya-karya sebelumnya, termasuk Pengepungan di Bukit Duri, yang memiliki intensi untuk mengungkapkan trauma kolektif bangsa. Ia pun menyuarakan trauma-trauma kolektif tersebut yang acap kali tak dibicarakan dan hanya "disimpan di bawah karpet". "Padahal itu adalah salah satu cara supaya kita bisa untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang sama," tutur Joko.
Ghost In the Cell juga memasukkan isu kerusakan lingkungan berupa deforestasi kendati tak dimaksudkan sebagai jalinan narasi utama dalam film yang digodok sejak 2018 tersebut. Joko pun mengaku sedih ketika mengetahui dampak dari salah satu isu dalam film tersebut justru juga terjadi di dunia nyata pada tragedi Banjir Sumatera. "Kejadian itu setelah kita syuting di 2025 dan kita semua sangat sedih banget karena kita berharap cuma ada di film, tapi ternyata terjadi," lanjutnya.
Ajang Refleksi yang Tetap Menghibur
Menurut Aming, yang memerankan karakter Tokek, film Ghost In the Cell merupakan sebuah karya yang matang, rapih, dan juga menghibur. Kendati terdapat ketegangan khas horor-thriller, Aming menilai bahwa film ini juga akan memberikan kesan yang menyenangkan untuk ditonton. " Can you imagine bisa nonton film yang serius, mikir, getir, depresif, tapi bikin ketawa," ucapnya.
Selain itu, Aming pun menganggap bahwa siratan kritik sosial dan politik yang kental dalam film tersebut juga dapat menjadi ajang refleksi bagi para penonton di Indonesia. Hal tersebut, tutur Aming, tak terlepas dari isu dalam film tersebut yang kini masih relevan namun dibawakan dengan balutan unsur komedi. "Jadi kita memang kayak menertawakan ketidakberuntungan kita sekarang yang dialami oleh banyak orang di luar sana," imbuhnya.




