Esports Tercatat Sebagai Cabang Terbersih dari Match-Fixing di 2025
Industri esports global terus berkembang pesat, baik dari sisi jumlah turnamen, hadiah, hingga popularitas penonton. Namun di balik pertumbuhan itu, isu integritas seperti match-fixing selalu menjadi perhatian utama. Kabar baiknya, laporan terbaru menunjukkan tren yang semakin positif: angka dugaan pengaturan skor di esports justru menurun dan termasuk yang terendah dibanding cabang olahraga lain.
Data ini menjadi sinyal penting bahwa ekosistem kompetitif esports semakin matang dan serius dalam menjaga transparansi.
Laporan Sportradar: Angka Kecurangan Menurun
Perusahaan pemantau olahraga global Sportradar melaporkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 34 pertandingan esports yang ditandai sebagai mencurigakan. Angka tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 41 pertandingan.
Dari total lebih dari 100.000 pertandingan yang dimonitor, hanya 0,03% yang terindikasi mencurigakan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan olahraga tradisional seperti sepak bola (0,31%) dan basket (0,29%).
Esports bahkan sejajar dengan tenis meja sebagai cabang dengan tingkat dugaan match-fixing terendah. Secara keseluruhan, lebih dari 99,5% pertandingan olahraga global dinyatakan bebas dari kecurigaan.
Meski demikian, Sportradar mencatat bahwa praktik match-fixing kini semakin kompleks dan menyebar ke berbagai kompetisi, bukan lagi terpusat di wilayah tertentu.
Edukasi dan Penegakan Aturan Jadi Kunci
Menurunnya angka kasus tidak lepas dari peningkatan edukasi dan pengawasan. Sportradar bekerja sama dengan Riot Games untuk menghadirkan program edukasi integritas di berbagai turnamen esports.
Program ini dirancang untuk memberi pemahaman kepada pemain, pelatih, dan ofisial tentang risiko hukum dan profesional dari match-fixing. Pendekatan preventif dinilai efektif, terutama di pasar esports yang sudah mapan.
Selain itu, Sportradar juga berkolaborasi dengan Esports Integrity Commission (ESIC) dalam investigasi kasus dugaan pengaturan skor. ESIC bahkan memperluas kerja sama dengan berbagai perusahaan taruhan untuk meningkatkan pemantauan aktivitas mencurigakan.
Beberapa Kasus Match-Fixing di 2025
Walau angkanya menurun, tetap ada kasus yang mencoreng kompetisi. Sepanjang 2025, tercatat sembilan sanksi resmi di ranah esports.
Dua pemain StarCraft II, Xue “Firefly” Tao dan Jinhui “Jim” Cao, menerima larangan seumur hidup setelah terbukti terlibat pengaturan skor sejak 2024. Di skena Counter-Strike 2, tim asal Swedia Northern Lights juga diskors setelah salah satu pemain mengakui praktik manipulasi hasil pertandingan.
Kasus lain melibatkan pemain Valorant, Seungmin “ban” Oh, yang disuspensi oleh Riot Games karena berkomunikasi dengan pihak yang menawarkan manipulasi pertandingan—meskipun tidak sampai terjadi pengaturan skor. Riot menegaskan bahwa sekadar terlibat diskusi terkait match-fixing sudah melanggar regulasi.
Tantangan Integritas di Era Modern
Sportradar menilai bahwa match-fixing kini tidak lagi terpusat, melainkan semakin tersebar dan kompleks. Artinya, meskipun jumlah kasus turun, metode pelaku semakin canggih.
Beberapa olahraga tradisional seperti basket, tenis, tenis meja, dan kriket justru mengalami peningkatan laporan kasus pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman integritas tetap nyata di semua cabang, termasuk esports.
Namun, pendekatan kolaboratif antara publisher game, lembaga pengawas, dan perusahaan data menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik.
Dampak Besar bagi Karier Pemain
Satu hal yang jelas: keterlibatan dalam match-fixing dapat menghancurkan karier secara permanen. Hukuman larangan seumur hidup bukan hanya menghilangkan kesempatan bermain, tetapi juga reputasi profesional.
Di era esports modern, integritas menjadi aset utama. Sponsor, organisasi, dan penyelenggara turnamen kini semakin ketat dalam menerapkan kebijakan kepatuhan.
Tren penurunan kasus match-fixing di esports merupakan kabar menggembirakan. Meski tantangan tetap ada, data menunjukkan bahwa sistem pengawasan dan edukasi berjalan efektif.
Dengan kolaborasi global dan inovasi berkelanjutan, esports berpeluang menjadi salah satu industri kompetitif paling transparan di dunia. Bagi penggemar dan pelaku industri, ini adalah fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Industri game berkembang pesat berkat ekosistem media yang independen dan kritis. Di Ligagame, kami percaya liputan mendalam, investigasi industri, dan analisis esports berkualitas hanya bisa hadir jika didukung oleh komunitas pembaca.
Berbeda dari media yang dikendalikan korporasi besar, dukungan komunitas gamers bisa membantu kami tetap independen, berani mengkritisi, dan konsisten menghadirkan konten terbaik untuk gamer Indonesia.
Jika ingin melihat jurnalisme game yang lebih tajam, berimbang, dan tidak sekadar sensasi, kamu tahu apa yang harus dilakukan. Dukung Ligagame secara rutin dan jadilah bagian dari pertumbuhan industri game yang lebih sehat.




