Ruang Press - Program B50 diyakini dapat mendorong hilirisasi komoditas sawit di Indonesia menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menekankan potensi sawit yang tidak hanya terbatas pada bahan baku energi, tetapi juga mencakup sektor farmasi dan pangan.
Esther menyatakan bahwa prospek produk turunan sawit sangat cerah, dengan lebih dari 200 jenis produk yang dapat dihasilkan. Ia menggarisbawahi pentingnya langkah strategis dalam mengembangkan berbagai produk turunan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Strategi pengembangan ekspor produk turunan sawit harus difokuskan pada diferensiasi produk. Menurut Esther, Indonesia tidak cukup mengandalkan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), melainkan harus meningkatkan produksi barang bernilai tambah seperti sabun, deterjen, biodiesel, hingga pelumas. Selain itu, pelaku industri perlu memperhatikan standar mutu dan regulasi perdagangan internasional, terutama untuk produk yang masuk ke sektor pangan dan kosmetik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyatakan bahwa implementasi biodiesel B50 memberikan manfaat ekonomi bagi negara dan memperkuat kemandirian energi nasional. Program ini diproyeksikan dapat menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun pada tahun 2026 dan menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat.