Ruang Press - Perubahan praktik jurnalistik di Indonesia dipicu oleh masuknya kecerdasan buatan (AI) ke dalam ruang redaksi, yang mengubah cara editor mengambil keputusan. Pertanyaan yang muncul kini bukan lagi apakah AI akan menggantikan wartawan, melainkan siapa yang sebenarnya memengaruhi keputusan editorial.
Dua artikel yang diteliti menunjukkan bagaimana AI mulai merambah dunia jurnalistik. Satu artikel telah terbit, sementara yang lainnya masih dalam proses publikasi. Penelitian ini berkaitan dengan bagaimana wartawan senior memutuskan kelayakan naskah yang disusun dengan bantuan AI.
Rapat redaksi yang dulu dimulai dengan cerita wartawan kini berubah. Editor datang dengan rekomendasi yang dihasilkan oleh algoritma, memperlihatkan bahwa AI tidak hanya membantu dalam pekerjaan, tetapi juga dalam pengambilan keputusan. Media ternama seperti The Washington Post dan Reuters telah mengadopsi AI untuk berbagai keperluan, namun tetap mempertahankan keputusan akhir di tangan manusia.
Walaupun penggunaan AI dalam jurnalistik meningkat, keputusan editorial tetap harus berada di tangan manusia. Editorial Intelligence, kemampuan editor untuk menggunakan AI tanpa menyerahkan penilaian, menjadi penting. Kualitas jurnalisme tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh keberanian editor untuk tidak selalu mengikuti rekomendasi algoritma demi kepentingan publik.