Dosen UIN Ar-Raniry Raih Gelar Doktor, Komitmen Tinggi Dalam Advokasi Penyintas HIV/Aids
Sumber Foto: Serambinews.com
Hukum

Dosen UIN Ar-Raniry Raih Gelar Doktor, Komitmen Tinggi Dalam Advokasi Penyintas HIV/Aids

SERAMBINEWS.COM, MEDAN – Nurul Husna, perempuan asal Adan, Kecamatan Mutiara Timur Pidie, yang mengabdi sebagai dosen Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Sabtu (14/02/2026) resmi menyandang gelar Doktor setelah mengikuti wisuda di Kampus Universitas Sumatera Utara Medan.

Nurul Husna meneliti tentang Kebijakan Pembangunan Kesejahteraan Sosial bagi Orang Dengan HIV /Aids di Aceh: Stigma, Dukungan, dan Implikasinya pada Praktik Pekerjaan Sosial di Aceh.

Ibu tiga anak ini mampu meneliti dan mempertahankan hasil penelitiannya dengan sempurna dalam ujian disertasi di hadapan dewan penguji pada akhir 2025 lalu.

“Hari ini rasa lelah dari proses belajar dan penelitian panjang terasa tertebus setelah mengikuti prosesi wisuda di Kampus USU Medan. Lega rasanya,” ujar Dr Nurul Husna kepada media ini, Sabtu.

Penelitian yang dilakukan Nurul sangat menantang. Orang-orang enggan membicarakan tentang HIV /Aids.

“Apalagi di Aceh yang berlaku syariat Islam, ia sangat tabu,” kata suami dari Ir Tarmizi A Hamid, sang kolektor manuskrip Aceh.

Tapi Nurul melihat masalah HIV /Aids bukan hal yang patut disembunyikan.

Ketika semua orang terus menyembunyikan, kata Nurul, maka ia akan membesar dan suatu saat dapat meledak jumlah kasusnya.

Nurul berani meneliti sesuatu yang sering dihindari banyak orang, yaitu penyakit yang tidak hanya mematikan dari sisi medis, tetapi juga membunuh secara sosial karena stigma yang melekat.

Pada akhir tahun 2017, Nurul Husna bertemu dengan seorang teman dengan inisial R yang merupakan Orang Dengan HIV /AIDS (ODHA).

Dia pun tertantang untuk meneliti masalah Aids dan kebijakan negara dalam penanganannya.

Negara harus hadir

Sejak saat itu, Nurul memiliki komitmen untuk melakukan advokasi terhadap penyintas HIV /Aids, khususnya di Aceh.

“Penyintas HIV /Aids membutuhkan pendampingan sosial sampai mereka terbebas dari masalah dari masalah yang mereka hadapi,” kata perempuan yang dikenal ramah di kalangan mahasiswa ini.

Selain itu, kata dia, negara harus hadir dengan berbagai kebijakan untuk mengobati dan mencegah kemunculan kasus-kasus baru terkait HIV /Aids.

“Khusus di Aceh, terdapat instansi-instansi keistimewaan yang perlu dilibatkan dalam penanganan dan pencegahan penyakit menular dan mematikan ini,” saran dia.

“Pendekatan agama dan budaya dipandang efektif dalam menekan dan menghindari penyebaran HIV/Aids dalam masyarakat,” kata alumnus S2 UGM ini.(*)