Digitalisasi Efektif: Tantangan Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Menurut Rani, banyak kegagalan digitalisasi bukan karena kurang teknologi, melainkan karena manajemen menghindari keputusan yang tidak populer.
Digitalisasi terlihat berhasil pada tahap awal, tetapi dalam beberapa bulan operasional justru terasa semakin rumit, biaya meningkat, dan pekerja kembali mengandalkan cara lama.
INOVASI BERSAMA TANPA KETERGANTUNGAN BARU
Inovasi bersama mitra menjadi semakin penting karena menyangkut bagaimana perusahaan bekerja dengan pemasok, distributor, lembaga keuangan, dan mitra teknologi untuk memperbaiki operasi dari hulu ke hilir. Para pakar mengatakan, kolaborasi digital dapat memperkuat ekosistem, atau justru memindahkan ketergantungan dari sistem lama ke platform baru.
Namun kolaborasi digital juga membawa risiko baru. Ekonom senior Indonesia Financial Group, Ibrahim Kholilul Rohman, mengingatkan adanya potensi keterikatan pada platform tertentu.
“Dalam ekonomi digital ada yang disebut lock-in point. Ketika pelaku usaha sudah terikat dalam satu platform, ruang geraknya menjadi lebih terbatas,” ucap sosok yang juga mengajar sebagai dosen ekonomi digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) itu.
Dalam beberapa kajian, Ibrahim menemukan pelaku usaha kecil dapat terikat oleh aturan platform, mulai dari jam operasional hingga penentuan harga. Akses pasar memang terbuka dalam jangka pendek, tetapi ketergantungan tersebut dapat melemahkan daya tawar dalam jangka menengah.
Masalah koordinasi dan ketergantungan tidak hanya muncul dalam hubungan dengan platform eksternal, tetapi juga di dalam organisasi itu sendiri. Rani Septya dari CELIOS menguraikan jika setiap unit dibiarkan memilih sistem dan aturan data sendiri, integrasi menjadi mahal, data tidak selaras, dan biaya koordinasi meningkat. Inovasi pun sulit menempel ke operasi harian karena fondasi data yang tidak tertib.
Selain persoalan integrasi internal, isu inklusi pemasok turut menentukan daya saing. Para pakar mengatakan, sistem pengadaan dan pembayaran yang terlalu rumit atau mahal berpotensi menyingkirkan pemasok kecil, bukan karena kalah kualitas, melainkan karena beban administrasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini mempersempit ekosistem dan melemahkan ketahanan rantai pasok.
SDM, PEMBIAYAAN, DAN KEPERCAYAAN
Hampir semua diskusi tentang transformasi digital berujung pada satu kesimpulan bahwa teknologi relatif tersedia, sementara hasilnya ditentukan oleh disiplin eksekusi.
Salah satu keputusan paling krusial menyangkut sumber daya manusia (SDM), yakni bagaimana perusahaan memastikan sistem digital benar-benar dapat dioperasikan secara efektif.
Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UKM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Izzudin Al Farras, mengatakan aspek SDM kerap terabaikan pada tahap awal karena manajemen terlalu fokus pada keberhasilan implementasi teknis.
“Padahal keputusan terkait SDM sangat menentukan keberlanjutan manfaat digitalisasi,” ujarnya kepada CNA Indonesia.
Menurut Izzudin, banyak perusahaan keliru mengira investasi sistem digital secara otomatis akan meningkatkan produktivitas. Dalam praktiknya, keberhasilan digitalisasi bergantung pada kapasitas manusia yang mengoperasikan sistem tersebut serta kesesuaiannya dengan kebutuhan nyata bisnis.
Ia menjelaskan, perusahaan dihadapkan pada pilihan antara meningkatkan kemampuan karyawan yang ada atau merekrut tenaga kerja baru dengan keahlian digital.
Peningkatan kapasitas internal membutuhkan waktu dan pendampingan, tetapi memberi pemahaman proses bisnis yang lebih dalam dan efisiensi jangka panjang. Sementara itu, perekrutan tenaga baru dapat mempercepat adaptasi teknologi, namun berimplikasi pada kenaikan biaya tetap dan tantangan integrasi tim.




