Ruang Press - Masyarakat pers di Asia diingatkan untuk bersatu membangun narasi yang kuat dan orisinal di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Seruan ini disampaikan oleh Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, dalam pertemuan meja bundar yang melibatkan awak media dari Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Asosiasi Wartawan Tiongkok di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, dengan tema "Membentuk Narasi Asia di Era Kecerdasan Buatan". Delegasi Indonesia diwakili oleh pengurus JMSI, termasuk Penasihat JMSI Pusat Mursyid Sonsang dan beberapa ketua JMSI dari berbagai daerah.
Dalam pemaparannya, Teguh menekankan kedalaman hubungan sejarah antara Indonesia dan kawasan Asia, khususnya Yunnan, yang merupakan titik awal perjalanan nenek moyang bangsa Indonesia. Ia juga mengenang Laksamana Cheng Ho sebagai simbol persahabatan dan kerja sama kedua bangsa. Selain itu, Teguh membagikan hasil penelusuran genetik yang menunjukkan akar sejarah manusia Indonesia yang berawal dari Afrika dan bermigrasi ke Asia sebelum ke Nusantara.
Teguh mengapresiasi inisiatif ACJA dalam memperkuat solidaritas antarinsan pers. Ia menekankan pentingnya dialog dan kerja sama dalam menghadapi tantangan perubahan yang dibawa oleh kecerdasan buatan. Teguh juga mengingatkan risiko yang bisa muncul dari penggunaan teknologi ini, yang dapat mengaburkan identitas kawasan jika tidak dikelola dengan baik.
Teguh berharap pertemuan ini dapat menghasilkan rekomendasi untuk kemajuan dunia pers di Asia, dengan penekanan pada pentingnya kolaborasi antarlembaga pers, pelestarian lingkungan, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan. Ia menekankan bahwa media memiliki peran penting dalam meredam konflik dan menyebarkan narasi perdamaian, serta harus berkomitmen untuk memberantas berita bohong dan ujaran kebencian di era digital ini.