Dassault: Jet Bisnis Sebagai Alat Produktivitas, Bukan Simbol Kemewahan
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Dassault: Jet Bisnis Sebagai Alat Produktivitas, Bukan Simbol Kemewahan

KOMPAS.com - Pesawat jet bisnis kerap dipersepsikan sebagai simbol kemewahan dan gaya hidup eksklusif kalangan ultra-kaya.

Namun bagi Dassault Aviation, business jet sejatinya adalah alat mobilitas strategis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan.

Executive Vice President Civil Aircraft Dassault Aviation, Carlos Brana, menegaskan bahwa filosofi Falcon tidak dibangun di atas kemewahan yang berlebihan.

“Kami tidak berada di ranah kemewahan,” ujar Brana.

“Yang kami tawarkan adalah efisiensi. Ini adalah alat bisnis,” imbuhnya.

Menurut Brana, anggapan bahwa jet bisnis identik dengan kemewahan tidak sepenuhnya tepat. Meski harga pesawat sangat tinggi, desain dan konsepnya lebih mengutamakan fungsi dibanding ornamen glamor.

“Desainnya sederhana, elegan… tetapi bukan kemewahan yang berlebihan,” katanya.

Kecil namun berpotensi

Di Indonesia, pasar business jet memang belum besar. Brana memperkirakan total armada jet bisnis di Tanah Air berada di kisaran 40–60 unit.

“Indonesia memiliki sekitar 40 hingga 50 unit pesawat bisnis jet, ini bukan pasar yang besar," ujarnya.

Meski demikian, Dassault melihat Indonesia sebagai pasar yang solid dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, terutama karena faktor geografis sebagai negara kepulauan dengan banyak bandara berlandasan pendek dan lokasi terpencil.

Brana menyebut model seperti Dassault Falcon 2000 cocok untuk penerbangan domestik dan regional, sementara model jarak jauh seperti Dassault Falcon 6X dan Dassault Falcon 10X dirancang untuk perjalanan lintas benua tanpa transit.

Salah satu tantangan utama di Indonesia, menurut Brana, bukan semata faktor ekonomi, melainkan budaya korporasi.

Ia menilai masih banyak perusahaan besar yang memilih penerbangan komersial meski memiliki skala bisnis internasional.

Lihat Foto

“Tantangan pertama ketika memasuki suatu negara adalah budaya masyarakatnya. Seberapa besar mereka bersedia menggunakan jet bisnis?” kata Brana.

Ia mencontohkan bahwa di Amerika Serikat, jet bisnis telah lama menjadi bagian dari strategi mobilitas perusahaan. Di Indonesia, penggunaan jet bisnis dinilai masih bisa berkembang.