China Memimpin Revolusi Energi Hijau Melalui Tenaga Bayu
Liputan6.com, Jakarta - Energi menjadi landskap, China merupakan kekuatan yang tak terbantahkan, khususnya dalam hal energi baru. Dari Gurun Gobi hingga lautan, tenaga bayu menjadi salah satu pilar utama dalam transisi negara menuju model pembangunan yang lebih bersih dan juga berkelanjutan.
Sudah selama 15 tahun berturut-turut, China menempati peringkat pertama di dunia dalam hal tenaga bayu terpasang. Pada akhir November 2025, total kapasitas terpasangnya mencapai 600 juta kilowatt, jauh melampaui kapasitas negara lain, dilansir dari Antara, Kamis 29 Januari 2026.
Jumlah ladang energi angin di daratan (onshore) yang tersebar luas di China bagian utara dan barat, serta cepatnya pengembangan proyek-proyek energi ladang angin lepas pantai (offshore) di sepanjang pesisir timur China, menjadi bukti nyata.
Energi bayu di negara China tidak hanya menyediakan listrik bersih bagi sejumlah rumah tangga, tetapi juga memainkan peran krusial dalam pengurangan emisi karbon.
Data resmi dari China menunjukkan bahwa di luar area perbatasan, negara tersebut secara aktif membagikan pencapaian hijaunya. Dalam periode 2021-2025, produk tenaga bayu dan fotovoltaik yang diekspor oleh China membantu memangkas sekitar 4,1 miliar ton emisi karbon di negara-negara lain.
Dibantu oleh sistem energi terbarukan terbesar di dunia, inovasi teknologi yang sedang berlangsung, serta dukungan kebijakan yang kuat, China siap melanjutkan kerja sama internasional dalam memajukan transisi global menuju masa depan hijau dan rendah karbon.
Tak hanya itu, hal tersebut sekaligus berkontribusi terhadap visi bersama untuk dunia yang lebih bersih dan juga indah.
Inovasi Mega Proyek Lepas Pantai dan Integrasi Ekonomi Biru
Salah satu sorotan paling revolusioner dalam evolusi energi angin China adalah lompatan teknologi yang drastis di sektor lepas pantai (offshore), yang kini bertransformasi menjadi laboratorium raksasa bagi rekayasa maritim canggih.
Tidak sekadar menancapkan turbin di laut, China kini tengah mengembangkan unit turbin angin berkapasitas raksasa, seperti proyek unit 20 megawatt yang dibangun di perairan pesisir Provinsi Fujian, yang dirancang untuk menahan badai sekaligus memanen energi secara maksimal.
China mempelopori konsep "Ekonomi Biru" yang inovatif melalui proyek terpadu seperti " Fuxi No. 1" di Shanwei, Provinsi Guangdong. Proyek ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga angin dengan budidaya perikanan laut dalam di lokasi yang sama.
Pendekatan hibrida ini membuktikan bahwa transisi energi tidak harus mengorbankan sektor ekonomi pangan, melainkan justru dapat bersinergi menciptakan nilai tambah ganda dalam satu kawasan perairan.
Dengan mengatasi keterbatasan lahan di daratan, ekspansi ke wilayah maritim yang kompleks ini menjadi bukti kecanggihan teknik China dalam memaksimalkan potensi sumber daya alam tanpa merusak ekosistem, mempertegas statusnya sebagai pionir teknologi hijau global.
Visi Jangka Panjang Menuju Peradaban Ekologis Global
Perbesar
Keberhasilan China dalam mendominasi sektor energi bayu tidak lepas dari peta jalan kebijakan negara yang konsisten untuk membangun apa yang mereka sebut sebagai "peradaban ekologis".
Dukungan kebijakan yang kuat dan terpusat menjadi fondasi utama yang memungkinkan mobilisasi sumber daya besar-besaran, mulai dari riset dasar hingga implementasi infrastruktur skala gigantik di medan yang sulit.
Transisi ini bukan sekadar pencapaian statistik semata, melainkan manifestasi dari komitmen nasional untuk mengubah secara fundamental struktur ekonomi mereka dari model pertumbuhan padat karbon menjadi pertumbuhan hijau berkualitas tinggi.
China menyadari sepenuhnya bahwa krisis iklim adalah tantangan transnasional yang membutuhkan solusi kolektif dan teknologi yang terjangkau.
Oleh karena itu, dengan bekal sistem energi terbarukan terbesar di dunia saat ini, China menawarkan model pembangunan baru bagi negara-negara berkembang lainnya.
Melalui diplomasi iklim dan transfer teknologi, China berupaya memimpin narasi global bahwa kemajuan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, demi mewujudkan visi bersama akan dunia yang bersih, indah, dan berkelanjutan.




