Buku 'Dari Api ke Aksara' Menyajikan Refleksi Sosial dan Politik NTB
Sumber Foto: ANTARA News Sumsel
Ruang Redaksi

Buku 'Dari Api ke Aksara' Menyajikan Refleksi Sosial dan Politik NTB

Mataram (ANTARA) - Buku berjudul 'Dari Api ke Aksara: Catatan Tajuk ANTARA NTB 2025' merupakan sebuah karya yang merangkum perjalanan pemikiran, refleksi sosial, dan dinamika daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang tahun 2025. Buku ini disusun dari tulisan-tulisan tajuk yang dihasilkan oleh ruang redaksi ANTARA Biro NTB.

Abdul Hakim, penulis buku sekaligus Kepala Biro ANTARA NTB, menjelaskan bahwa lahirnya buku ini berawal dari sebuah peristiwa penting yang mengguncang Kota Mataram pada penghujung Agustus 2025. Pada saat itu, demonstrasi di depan Gedung DPRD NTB berakhir dengan kobaran api yang melumat gedung tersebut. Insiden ini menginspirasi penulisan tajuk reflektif berjudul 'Membaca Makna di Balik Api DPRD NTB' yang mendapat respons positif dari banyak pembaca.

Hakim menekankan bahwa momentum tersebut menunjukkan pentingnya melihat peristiwa-peristiwa di masyarakat tidak hanya sebagai berita harian, melainkan sebagai refleksi sosial dan politik yang perlu untuk dipahami lebih dalam. Dari sinilah muncul dorongan untuk menulis tajuk secara rutin hampir setiap hari, yang kemudian membentuk jejak pemikiran jurnalistik mengenai NTB sebagai miniatur Indonesia.

Isi Buku

Buku 'Dari Api ke Aksara' terdiri dari enam bagian besar. Berikut adalah ringkasan dari setiap bagian:

  • Bagian Pertama: Arah pembangunan dan infrastruktur.
  • Bagian Kedua: Dinamika sosial dan budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
  • Bagian Ketiga: Politik dan pemerintahan, termasuk refleksi atas kasus pembakaran DPRD dan isu dana pokir.
  • Bagian Keempat: Tema ekonomi dan lingkungan, mencakup krisis air hingga persoalan sampah.
  • Bagian Kelima dan Keenam: Menyoroti event internasional seperti MotoGP Mandalika dan kisah kemanusiaan yang jarang tersorot.

Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Akhmad Munir, juga memberikan kata pengantar dalam buku ini, mengapresiasi upaya untuk memperkuat jurnalisme reflektif di tengah derasnya arus informasi.

Hakim mengakui bahwa proses penulisan tajuk setiap hari bukanlah hal yang mudah. Banyak tulisan diselesaikan di malam hari di sela-sela liputan dan dinamika kerja redaksi. Ia menyatakan bahwa semua tulisan lahir dari diskusi dengan rekan-rekan pewarta dan berita-berita kecil yang sering terlewatkan.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim ANTARA NTB yang disebutnya sebagai "saudara seperjuangan di medan kebenaran", serta keluarganya yang menjadi sumber energi dan ketenangan selama proses penulisan. Hakim berharap tajuk-tajuk ini tidak hanya hidup sehari di laman berita, tetapi juga dapat dibaca dan dipahami oleh generasi mendatang, sehingga semangatnya dapat dilanjutkan.

"Buku ini adalah persembahan kecil untuk NTB dan dunia jurnalistik, serta pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk informasi cepat, masih ada ruang untuk tulisan yang lahir dari empati dan tanggung jawab moral," ujarnya. Ia berharap buku ini dapat menjadi renungan dan cahaya bagi siapa pun yang ingin melihat NTB dengan lebih jernih dan manusiawi.