BUBK Kebumen: Model Budidaya Udang Berkelanjutan yang Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Jakarta – Inovasi dalam sektor perikanan budidaya kembali menorehkan catatan gemilang. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengumumkan lonjakan signifikan dalam produksi tambak budidaya udang berbasis kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, produksi udang di kawasan ini mencapai 358,97 ton, sebuah pencapaian yang luar biasa. Keberhasilan ini semakin diperkuat dengan dimulainya siklus budidaya ketujuh pada awal tahun 2026, menandakan keberlanjutan dan potensi jangka panjang dari model budidaya ini.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi ini merupakan bukti nyata efektivitas sistem budidaya berbasis kawasan yang diterapkan secara komprehensif. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga menekankan pada keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan kualitas produk yang unggul.
"Transisi pengelolaan tambak berjalan dengan mulus dan tidak mengganggu aktivitas produksi. Bahkan, saat ini kami terus memperkuat operasional tambak agar semakin optimal," tegas Haeru dalam keterangan tertulisnya. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen KKP untuk terus mendukung dan mengembangkan BUBK Kebumen sebagai model percontohan bagi pengembangan udang nasional.
Data yang dirilis oleh KKP menunjukkan tren peningkatan produksi yang konsisten. Pada tahun 2023, BUBK Kebumen mencatatkan produksi sebesar 200,19 ton. Meskipun sempat mengalami sedikit penurunan pada tahun 2024 menjadi 193,29 ton, namun pada tahun 2025 produksi melonjak tajam menjadi 358,97 ton. Momentum positif ini terus dijaga dengan penebaran kembali benur udang vaname oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara pada Februari 2026, menandai dimulainya siklus budidaya ketujuh.
Peran BBPBAP Jepara dalam pengelolaan BUBK Kebumen menjadi kunci keberlanjutan produksi. Haeru menjelaskan bahwa pengelolaan BUBK Kebumen dialihkan dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Jawa Barat, kepada BBPBAP Jepara dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kesinambungan produksi. Keputusan ini diambil setelah BLUPPB Karawang mendapatkan tambahan tugas untuk mengelola modeling budidaya ikan nila salin yang luasnya bertambah signifikan dari 84 hektare menjadi 314 hektare sejak Agustus 2025. Dengan fokus yang lebih terarah, BBPBAP Jepara diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih intensif terhadap pengembangan BUBK Kebumen.
Lebih dari sekadar peningkatan kuantitas, BUBK Kebumen juga membuktikan komitmennya terhadap kualitas produk. Haeru menekankan bahwa udang yang dihasilkan dari BUBK Kebumen bebas dari residu antibiotik. Hal ini dicapai melalui penerapan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) secara ketat dalam seluruh proses budidaya. CBIB merupakan standar operasional yang mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan bibit unggul, pengelolaan pakan yang tepat, pengendalian penyakit, hingga penanganan panen dan pasca panen yang higienis.
"Dengan penerapan CBIB sesuai standar, kami optimistis produksi dan produktivitas BUBK Kebumen akan terus meningkat dari waktu ke waktu hingga mencapai produksi optimal," imbuh Haeru. Optimisme ini didasarkan pada keyakinan bahwa kualitas produk yang terjaga akan meningkatkan daya saing udang Kebumen di pasar domestik maupun internasional.
Haeru juga mengajak seluruh pelaku usaha perikanan untuk mengadopsi prinsip-prinsip CBIB yang telah terbukti sukses diterapkan di BUBK Kebumen. Penerapan CBIB tidak hanya akan meningkatkan kualitas dan daya saing produk, tetapi juga akan memperkuat posisi udang Indonesia di pasar global. Dengan semakin banyak pelaku usaha yang menerapkan CBIB, Indonesia dapat menjadi negara eksportir udang yang terpercaya dan diakui kualitasnya di seluruh dunia.
BUBK Kebumen bukan hanya sekadar tambak udang, tetapi juga merupakan pusat edukasi dan pengembangan perikanan budidaya. Haeru menjelaskan bahwa BUBK Kebumen dirancang sebagai model pengembangan udang nasional yang berkelanjutan, sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas. Masyarakat dapat datang langsung untuk melihat dan belajar tentang praktik budidaya udang yang modern, efisien, dan ramah lingkungan.
"Dengan operasional yang terus berjalan dan siklus produksi yang berlanjut, BUBK Kebumen membuktikan bahwa modeling ini mampu menjadi model pengembangan udang nasional yang berkelanjutan, sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas untuk datang melihat dan belajar langsung," terang Haeru.
Sebagai informasi tambahan, kawasan BUBK Kebumen mengelola lahan tambak seluas kurang lebih 65 hektare, dengan 23,5 hektare merupakan lahan produksi aktif yang terdiri dari 16 klaster. Setiap klaster dikelola secara intensif dengan menggunakan teknologi dan praktik budidaya terbaik. Pada tahun 2026, tambak telah kembali menjalankan siklus budidaya ketujuh, membuktikan keberlanjutan dan potensi jangka panjang dari model ini.
Dampak positif BUBK Kebumen tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi dan kualitas produk. Sejak awal beroperasi, BUBK Kebumen juga memberikan kontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kebumen melalui pembayaran retribusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Perikanan Budidaya. Pada tahun 2024, kontribusi tercatat sebesar Rp 259.087.652 dan pada tahun 2025 meningkat signifikan menjadi Rp 489.264.736. Peningkatan kontribusi ini menunjukkan bahwa BUBK Kebumen memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah.
Selain kontribusi terhadap PAD, BUBK Kebumen juga berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Saat ini, BUBK Kebumen menyerap 142 tenaga kerja tetap lokal yang berasal dari desa sekitar. Selain itu, lebih dari 100 orang dipekerjakan sebagai tenaga harian lepas. Kehadiran BUBK Kebumen telah memberikan peluang kerja yang signifikan bagi masyarakat lokal, membantu meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup mereka.
Secara sosial ekonomi, operasional tambak juga memberikan multiplier effect yang signifikan. Kehadiran BUBK Kebumen telah menghidupkan berbagai sektor ekonomi pendukung, seperti warung sembako, toko sarana prasarana tambak, rumah makan, dan peningkatan okupansi penginapan. Hal ini menunjukkan bahwa BUBK Kebumen tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi para pekerja dan pemerintah daerah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian secara keseluruhan.
Keberhasilan BUBK Kebumen merupakan bukti nyata bahwa inovasi dan penerapan teknologi dalam sektor perikanan budidaya dapat memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan produksi, kualitas produk, kesejahteraan masyarakat, dan pendapatan daerah. Model BUBK Kebumen dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan perikanan budidaya di daerah lain di Indonesia, sehingga dapat meningkatkan daya saing sektor perikanan Indonesia di pasar global dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. KKP terus berkomitmen untuk mendukung pengembangan BUBK Kebumen dan model-model perikanan budidaya lainnya yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, sektor perikanan Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan ekonomi nasional. Keberhasilan BUBK Kebumen di Kebumen menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dan kolaborasi dapat mewujudkan potensi besar sektor perikanan Indonesia.




