BRIN Dorong Keterhubungan Riset dan Pasar Kerja untuk Tingkatkan Kualitas Ekonomi
Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan keterhubungan riset dan inovasi dengan kebutuhan pasar kerja guna meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN Boediastoeti Ontowirjo mengatakan tantangan ekonomi Indonesia saat ini tidak hanya terkait pencapaian pertumbuhan, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan lapangan kerja yang produktif, aman, dan berkelanjutan.
“Persoalan kita bukan hanya menciptakan pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan itu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang berkualitas,” kata Boediastoeti dalam diskusi Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan keterhubungan riset dengan pasar kerja menjadi penting karena perubahan teknologi, pola industri, dan kebutuhan keterampilan berlangsung semakin cepat, sementara kesiapan tenaga kerja dan institusi pendidikan belum sepenuhnya adaptif.
Menurut Boediastoeti, BRIN mendorong riset yang berorientasi misi (mission-oriented research), di mana sinyal pasar tenaga kerja dan peta jalan industri menjadi dasar dalam penetapan agenda riset nasional.
Ia menilai riset dan inovasi tidak cukup berhenti pada akumulasi pengetahuan, tetapi harus mampu mendorong peningkatan produktivitas di tingkat perusahaan serta mendukung transformasi struktur ekonomi.
“Riset harus menjadi mesin transformasi struktural, bukan hanya menghasilkan publikasi,” ujarnya.
BRIN juga menyiapkan penguatan kolaborasi antara peneliti, industri, dan investor melalui pengembangan pusat inovasi nasional guna mempercepat hilirisasi hasil riset ke sektor riil.
Selain itu, Boediastoeti menekankan pentingnya integrasi peramalan kebutuhan keterampilan (skill forecasting) ke dalam ekosistem riset dan pengembangan sumber daya manusia agar pasokan tenaga kerja selaras dengan arah pembangunan ekonomi.
Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai persoalan keterhubungan pertumbuhan dan penciptaan kerja masih menjadi tantangan struktural ketenagakerjaan nasional.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyebut pada 2025 Indonesia masih memiliki sekitar 7,5 juta penganggur, dengan tambahan sekitar 19 juta pekerja tanpa upah dan 31 juta pekerja mandiri dalam kondisi rentan.
Menurut Apindo, perekonomian Indonesia dalam satu dekade terakhir rata-rata hanya mampu menyerap sekitar dua hingga 4,5 juta tenaga kerja per tahun, sementara tekanan angkatan kerja baru dan pengangguran eksisting mencapai sembilan hingga 12 juta orang per tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kualitas pertumbuhan melalui penguatan industri produktif, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta dukungan riset dan inovasi yang lebih terarah.
Lebih lanjut, BRIN menilai sinergi riset, dunia usaha, dan kebijakan publik menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi ke depan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga inklusif dan berdaya serap tenaga kerja.
Baca juga: BRIN: Perlu upaya lebih jauh cegah risiko RI jadi hotspot virus Nipah
Baca juga: BRIN paparkan konsep risiko sisa dalam pengendalian banjir Jakarta
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




