Bengkulu Optimalkan Produktivitas 424 Ribu Hektar Lahan Sawit
Sumber Foto: Hai Sawit
Lifestyle

Bengkulu Optimalkan Produktivitas 424 Ribu Hektar Lahan Sawit

Gambar Ilustrasi Tandan Buah Segar (TBS)

Jakarta, HAISAWIT – Pemerintah Provinsi Bengkulu kini memfokuskan langkah strategis guna meningkatkan hasil panen kelapa sawit di atas lahan seluas 424,53 ribu hektar yang tersebar pada sepuluh kabupaten dan kota.

Langkah ini diambil guna memastikan potensi perkebunan memberikan dampak ekonomi maksimal bagi masyarakat setempat. Optimalisasi tersebut mencakup perbaikan tata kelola serta pembaruan tanaman yang sudah tidak produktif lagi di lapangan.

Dilansir dari laman bps.go.id, Kamis (19/02/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas tanaman perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu pada tahun 2024 mencapai angka sementara sebesar 424,53 ribu hektar.

Data tersebut menunjukkan bahwa komoditas ini menjadi tulang punggung utama sektor perkebunan daerah. Angka tersebut melampaui luas lahan komoditas unggulan lainnya seperti karet, kopi, maupun kakao di wilayah tersebut.

Distribusi lahan yang sangat luas memerlukan perhatian khusus pada aspek ketersediaan bibit unggul. Penggunaan benih bersertifikat menjadi kunci utama dalam mengejar target kenaikan tonase Tandan Buah Segar (TBS) per hektar.

Berikut adalah rincian beberapa komoditas perkebunan di Bengkulu selain kelapa sawit menurut data terbaru.

Tanaman kopi seluas 91,23 ribu hektar.

Tanaman karet seluas 88,15 ribu hektar.

Tanaman kelapa seluas 8,76 ribu hektar.

Tanaman kakao seluas 5,13 ribu hektar.

Pemerintah daerah berupaya mendorong para petani untuk aktif dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program ini bertujuan mengganti pohon tua dengan bibit baru yang memiliki potensi genetik jauh lebih baik.

Peningkatan infrastruktur jalan akses ke area perkebunan juga menjadi agenda penting bagi kelancaran distribusi hasil bumi. Akses yang baik akan menekan biaya logistik sehingga harga di tingkat petani tetap terjaga stabil.

Sinergi antara perusahaan swasta dan perkebunan rakyat perlu diperkuat melalui pola kemitraan yang saling menguntungkan. Pola ini membantu petani kecil mendapatkan pendampingan teknis mengenai standar prosedur operasional pemeliharaan pohon sawit.

Penerapan teknologi pertanian tepat guna mulai diperkenalkan guna memantau kesehatan tanaman secara berkala. Penggunaan sensor tanah dan pemetaan melalui pesawat tanpa awak menjadi inovasi yang mulai dilirik oleh para pelaku usaha.

Selain fokus pada luas lahan, aspek keberlanjutan lingkungan menjadi syarat mutlak dalam perdagangan global. Pemenuhan sertifikasi standar Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi target yang harus dipenuhi oleh seluruh pemangku kepentingan.

Pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit juga mulai diolah menjadi sumber energi terbarukan. Hal ini membuktikan bahwa industri kelapa sawit di Bengkulu bergerak menuju arah yang lebih bersih dan efisien.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan rutin bagi kelompok tani tetap menjadi prioritas utama. Pengetahuan mengenai pemupukan yang presisi sangat menentukan keberhasilan produksi dalam jangka panjang bagi para pekebun.

Pemerintah optimistis bahwa dengan luas lahan mencapai 424,53 ribu hektar, Bengkulu mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Keberhasilan ini akan memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pemasok minyak sawit mentah yang diperhitungkan.***

---

Penulis: Reno

Editor: Arsad Ddin