Apindo Peringatkan Dampak Konflik AS-Israel-Iran Terhadap Stabilitas Ekonomi RI
Sumber Foto: Aspek.id
Internasional

Apindo Peringatkan Dampak Konflik AS-Israel-Iran Terhadap Stabilitas Ekonomi RI

Ruang Press - ASPEK.ID, JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terus menjadi perhatian kalangan dunia usaha nasional. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, dampak konflik berpotensi meluas tidak hanya pada sentimen pasar global, tetapi juga terhadap stabilitas energi, nilai tukar rupiah, hingga beban fiskal Indonesia.

Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar menegaskan, titik rawan utama berada pada potensi gangguan jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

“Apindo terus memantau secara seksama eskalasi serangan AS-Israel ke Iran yang berpotensi meluas menjadi konflik kawasan di Timur Tengah. Risiko utama tidak hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang merupakan salah satu bottleneck perdagangan energi dunia, di mana sekitar 20% minyak dunia melewati wilayah tersebut,” kata Sanny, Senin (2/3).

Baca Juga

Israel Putuskan Hubungan dengan Sekjen PBB Antonio Guterres, Ini Pemicunya

Prabowo Instruksikan Sekolah di RI Ajarkan Bahasa Prancis

AS Siapkan Uang US$250 Bergambar Trump, Tunggu Restu Kongres

KY Umumkan 36 Nama Lolos Seleksi Hakim Agung, Siapa Saja?

Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak hingga Rp 124 Juta per Ekor

Gerindra: Kunjungan Prabowo ke Prancis Bukti RI Tak Mengekor AS atau China

Advertisement. Scroll to continue reading.

Menurutnya, ancaman tidak harus berupa penutupan fisik jalur pelayaran. Ketidakpastian geopolitik saja sudah cukup memicu lonjakan premi risiko (risk premium) harga minyak dan gas, termasuk ongkos logistik internasional.

“Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional. Bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian saja, itu sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global,” jelasnya.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dinilai berada dalam posisi rentan. Kenaikan harga energi global di atas asumsi APBN berpotensi memperlebar tekanan terhadap subsidi dan kompensasi energi.

Jika harga bertahan tinggi dalam periode panjang, beban fiskal dipastikan meningkat dan dapat mempersempit ruang anggaran negara.

“Apindo menilai penting bagi pemerintah untuk mengelola risiko ini secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan, terhadap defisit dan pembiayaan utang negara,” tegas dia.

Apindo juga mengingatkan potensi volatilitas rupiah akibat sentimen risk-off global. Pelemahan nilai tukar akan memperbesar biaya impor, terutama energi dan pangan. Kondisi ini berisiko mendorong inflasi sekaligus meningkatkan tekanan terhadap sektor riil.

Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Dari sisi sektoral, industri yang bergantung pada energi dan logistik internasional diprediksi menjadi kelompok pertama yang terdampak. Sektor padat karya disebut paling rentan karena margin usaha relatif tipis dan sangat sensitif terhadap kenaikan biaya distribusi serta bahan baku impor.

“Dampak terhadap sektor usaha sendiri akan beragam. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional akan merasakan tekanan langsung. Sektor padat karya menjadi salah satu yang paling rentan karena margin yang tipis dan sensitivitas tinggi terhadap biaya distribusi, bahan baku impor, serta permintaan ekspor yang terganggu,” ujarnya.

Meski hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran maupun Israel relatif terbatas, Apindo menilai dampak tidak langsung jauh lebih signifikan, terutama melalui mekanisme harga energi global, nilai tukar, inflasi pangan, dan sentimen pasar keuangan.

Dalam jangka pendek, pelaku usaha disebut mengedepankan langkah mitigasi realistis dan adaptif. Beberapa strategi yang ditempuh antara lain efisiensi operasional, penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, pengelolaan eksposur valas, diversifikasi sumber pasokan, serta pemanfaatan instrumen lindung nilai.

“Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan wait and see tapi bersiap apabila tekanan global berlanjut,” pungkasnya. []

Komentar

Share11 Tweet7 Send Share Share2 Send

ADVERTISEMENT

Related Posts

Israel Putuskan Hubungan dengan Sekjen PBB Antonio Guterres, Ini Pemicunya

ASPEK.ID - Israel memutuskan menghentikan seluruh komunikasi dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Keputusan itu diambil setelah Israel dimasukkan ke...

Prabowo Instruksikan Sekolah di RI Ajarkan Bahasa Prancis

ASPEK.ID, PARIS - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan dirinya telah menginstruksikan agar bahasa Prancis diajarkan di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia....

AS Siapkan Uang US$250 Bergambar Trump, Tunggu Restu Kongres

ASPEK.ID - Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan persiapan awal terkait kemungkinan penerbitan uang kertas pecahan US$250 yang menampilkan wajah Presiden...

Load More