AI dalam Jurnalisme: Peran Manusia Tetap Utama
Jakarta, 15 Maret 2023
Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, kehadiran kecerdasan buatan (AI) semakin mengubah lanskap media massa. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menekankan bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu bagi jurnalis, bukan pengganti peran mereka dalam menentukan arah pemberitaan. Pernyataan ini disampaikan saat Hetifah menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta.
Hetifah mengungkapkan bahwa perkembangan AI saat ini telah melampaui fase eksperimen dan mulai menggeser peran tradisional media. Perubahan ini tercermin dalam cara produksi dan konsumsi informasi oleh masyarakat. Menurut survei di Asia Tenggara, sekitar 95 persen jurnalis telah mengenal teknologi AI, tetapi Hetifah menegaskan bahwa keputusan editorial dan verifikasi fakta harus tetap di tangan jurnalis manusia.
“AI dapat membantu mempercepat pekerjaan redaksi, namun tanggung jawab moral dan keputusan editorial tidak dapat diserahkan pada algoritma,” ujarnya, menekankan pentingnya peran manusia dalam jurnalisme.
Data juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen Generasi Z kini menggunakan AI sebagai alat untuk mencari informasi, yang menunjukkan bahwa media tidak hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga dengan teknologi yang mampu menyajikan informasi secara instan.
Di sisi positif, Hetifah melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi dalam pekerjaan jurnalistik. Teknologi ini memiliki kemampuan untuk melakukan tugas berat, seperti menganalisis ribuan dokumen dan mentranskripsi wawancara, dalam waktu yang sangat singkat. Integrasi teknologi ini melahirkan konsep smart journalism, yang memadukan riset mendalam, analisis data, dan kecerdasan buatan. Dengan pendekatan ini, jurnalis diharapkan dapat menyajikan informasi kompleks dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh publik.
Namun, di balik manfaat tersebut, ada juga ancaman yang perlu diwaspadai. Hetifah mengingatkan potensi penyalahgunaan AI, seperti disinformasi dan konten manipulatif seperti deepfake—video dan audio palsu yang tampak sangat realistis. Teknologi ini dapat digunakan untuk menipu publik dan memanipulasi opini, terutama dalam era informasi digital yang bergerak cepat.
“Perlombaan untuk menjadi yang tercepat sering kali menggoda media untuk mengorbankan akurasi. Padahal, akurasi adalah pilar utama dalam jurnalisme,” tegas Hetifah, menekankan pentingnya menjaga integritas dalam praktik jurnalistik di era digital.




