Ormat: Mitra Strategis untuk Transisi Energi Bersih di Indonesia
Listrik Indonesia | Riki Ibrahim, dosen senior Magister Energi Terbarukan Universitas Darma Persada (Unsada), menegaskan pentingnya publik tetap berpijak pada fakta saat membicarakan Ormat di tengah riak geopolitik global. Menurutnya, yang perlu disorot justru kinerja dan kontribusi perusahaan ini bagi transisi energi. ???Investasi Ormat terus meningkat, industri panas bumi makin inovatif dan kompetitif,??? ujarnya.
Ia mengingatkan, meski teknologi Ormat berakar dari Israel, kepemilikannya kini sepenuhnya bersifat global. Saham perusahaan dimiliki jutaan investor public mulai dari guru pensiunan di Ohio, pegawai negeri di Jepang, hingga ibu rumah tangga di Indonesia. Di Indonesia sendiri, komitmen Ormat kian nyata setelah terbit Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026 yang menetapkan Ormat sebagai pengelola WKP Telaga Ranu di Halmahera Barat, Maluku Utara, berkapasitas 40 MW sejalan dengan target net zero emission 2060.
Sejarah teknologi Ormat pun sarat nilai universal. Pada 1965, Lucien dan Yehudit Bronicki menciptakan teknologi Organic Rankine Cycle (ORC) yang kini menjadi tulang punggung pembangkit panas bumi dunia, termasuk di Indonesia. Riki menyamakan kisah ini dengan perjalanan sains modern: ilmu lahir dari keberagaman dan akhirnya menjadi milik seluruh umat manusia.
Tonggak penting Ormat terjadi pada 2004 ketika anak usahanya di Amerika, Ormat Technologies, melantai di bursa New York. Struktur perusahaan disederhanakan pada 2015, lalu pada 2017 saham mayoritasnya diakuisisi ORIX Corporation senilai US$627 juta. Seiring waktu, kepemilikan kembali bergeser. Pada 2026, porsi ORIX menyusut signifikan, sementara dua raksasa investasi Amerika BlackRock dan Vanguard menjadi pemegang saham terbesar. Sekitar 95 persen saham Ormat kini berada di tangan institusi keuangan global, menandakan pusat gravitasi perusahaan berada pada modal internasional yang profesional dan transparan.
Jejak Ormat di negara-negara mayoritas Muslim Indonesia, Turki, dan Kenya membuktikan bahwa teknologi tak mengenal sekat agama. Turki bahkan telah memasang turbin Ormat di 45 pembangkit sejak 2006 dengan total kapasitas lebih dari 900 MW. Kolaborasi energi terbarukan berjalan profesional dan saling menguntungkan, terlepas dari asal penemunya.
Saat ini, Ormat mengelola lebih dari 200 proyek dengan kapasitas total sekitar 3,2 GW yang tersebar di berbagai belahan dunia: Amerika Serikat, Jepang, Italia, Kenya, Filipina, Selandia Baru, hingga Indonesia. Kepemilikan global, manajemen Amerika, teknologi Israel, dan listrik yang menerangi banyak negara menjadi potret nyata globalisasi yang produktif uang, manusia, dan teknologi berpadu demi manfaat bersama.
Di Tanah Air, peran PT Ormat Geothermal Indonesia semakin menonjol. Namanya tercatat pada proyek-proyek strategis seperti Sarulla 330 MW (beroperasi sejak 2017), Gunung Salak 15 MW, dan Ijen 35 MW yang mulai menyala pada 2025. Ormat bukan sekadar pemasok teknologi ORC, tetapi pengembang panas bumi yang serius menanamkan investasi jangka panjang.
Ke depan, Riki menilai pendirian pabrik Ormat di Indonesia perlu didorong. Langkah ini diyakini akan mempercepat alih teknologi, meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), sekaligus menekan biaya sehingga lebih kompetitif dibanding teknologi konvensional flash condensing. ???Di situlah terlihat keseriusan membangun kemandirian energi nasional,??? tegasnya.
Dengan rekam jejak global, komitmen investasi, dan kontribusi nyata pada bauran energi bersih Indonesia, Ormat hadir bukan sebagai simbol geopolitik, melainkan sebagai mitra strategis menuju masa depan energi yang berdaulat dan berkelanjutan.




