Iran Siap Berunding dengan AS, Namun Menolak Ancaman
Istanbul - Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran bersedia untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) selama proses tersebut tidak dilakukan di bawah ancaman. Hal ini disampaikan oleh Araghchi dalam konferensi pers yang berlangsung di Istanbul pada Jumat, 30 Januari.
"AS tidak pernah menunjukkan iktikad baik dan tidak pernah bisa dipercaya. Namun, Iran tetap siap untuk semua proses diplomatik dan bersedia duduk di meja perundingan," ungkapnya dalam pernyataan bersama dengan Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan.
Araghchi menegaskan bahwa Iran siap menghadapi berbagai skenario, baik yang berkaitan dengan diplomasi maupun potensi konflik. Ia mencatat bahwa Iran kini lebih siap dibandingkan pada Juni tahun lalu, ketika serangan udara terhadap Iran dilakukan oleh Israel dan AS.
Dalam konferensi tersebut, Araghchi juga menekankan bahwa Iran tidak memiliki niatan untuk mengembangkan senjata nuklir. Ia menambahkan, "Kami akan mempertahankan dan memperluas kemampuan pertahanan kami dan tidak akan menegosiasikannya."
Sementara itu, Hakan Fidan mengajak baik Iran maupun AS untuk segera kembali melakukan perundingan, menekankan bahwa diplomasi merupakan satu-satunya cara untuk mencegah peningkatan ketegangan di kawasan. Fidan menyatakan, "Kami siap bertindak sebagai fasilitator untuk dialog antara kedua pihak. Kami sekali lagi menekankan penolakan kami terhadap penggunaan opsi militer untuk menyelesaikan masalah ini."
Kunjungan Araghchi berlangsung di tengah meningkatnya ancaman militer dari AS terhadap Iran. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa armada besar yang dipimpin oleh kapal induk Abraham Lincoln sedang menuju ke arah Iran, sekaligus memperingatkan bahwa "waktu hampir habis" bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan dengan AS.




