Investasi Transisi Energi Global Capai Rp38.713 Triliun, Transportasi Listrik Dominasi
Laju investasi global dalam transisi energi mencatatkan sejarah baru. Berdasarkan laporan tahunan Energy Transition Investment Trends dari BloombergNEF (BNEF), total investasi di sektor ini mencapai angka fantastis US$2,3 triliun (sekitar Rp38.713,6 triliun) sepanjang tahun 2025.
Meski mencetak rekor secara nominal dengan kenaikan 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, laporan tersebut menggarisbawahi adanya perlambatan pertumbuhan tahunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan lonjakan 27 persen pada tahun 2021.
Sektor transportasi listrik mengukuhkan posisinya sebagai tujuan investasi terbesar dengan serapan dana mencapai US$893 miliar (sekitar Rp15.030 triliun). Posisi kedua ditempati oleh sektor energi terbarukan dengan nilai US$690 miliar (sekitar Rp11.613,3 triliun), disusul oleh pembangunan infrastruktur jaringan listrik sebesar US$483 miliar (sekitar Rp8.129,8 triliun).
Namun, tren menarik terjadi pada sektor energi terbarukan yang justru mengalami penurunan investasi sebesar 9,5%. Penurunan ini ditengarai akibat perubahan kebijakan regulasi di China yang memicu ketidakpastian pada pasar energi terbesar di dunia tersebut.
Di sisi lain, sub-sektor seperti hidrogen dan nuklir masih mencatatkan angka yang relatif kecil, masing-masing menarik investasi sebesar US$7,3 miliar dan US$36 miliar.
Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, investasi pada pasokan energi bersih—yang mencakup energi terbarukan, nuklir, hidrogen, hingga penyimpanan karbon—berhasil melampaui investasi bahan bakar fosil. Selisih pengeluaran di antara keduanya mencapai US$102 miliar (sekitar Rp1.716,5 triliun).
Sebaliknya, investasi pada bahan bakar fosil mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak tahun 2020, menyusut sekitar US$9 miliar. Tren penurunan ini dipicu oleh rendahnya alokasi belanja di sektor hulu minyak dan gas serta pembangkit listrik berbasis fosil.
"Tahun lalu membuktikan bahwa meski diadang tantangan kebijakan dan hambatan perdagangan, transisi energi global tetap tangguh dan menawarkan peluang besar bagi investor," ujar Albert Cheung, Wakil CEO BloombergNEF yang dikutip SWA.co.id pada hari ini.
Laporan BNEF juga menyoroti penguatan rantai pasok energi bersih domestik di berbagai negara. Investasi di sektor rantai pasok naik 6% menjadi US$127 miliar, mencakup manufaktur panel surya, baterai, hingga pertambangan logam kritis.
Menariknya, dominasi mutlak China dalam manufaktur teknologi bersih dilaporkan mulai terkikis secara bertahap seiring langkah ambisius Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India dalam membangun kemandirian rantai pasok mereka.
Meski demikian, BNEF memberikan peringatan serius mengenai dua risiko utama. Pertama, investasi manufaktur turbin angin yang masih jauh di bawah target yang dibutuhkan untuk mencapai emisi nol bersih (net zero emissions). Kemudian, adanya potensi kelangkaan pasokan logam baterai di masa depan yang tetap mengintai jika penambahan proyek tambang baru terus melambat.
Pertumbuhan investasi ke depan diprediksi akan terus dipacu oleh kebutuhan keamanan energi nasional dan pembangunan pusat data (data center) global yang membutuhkan pasokan listrik bersih dalam skala masif. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.




