Urgensi Pengembangan Energi Alternatif di Tengah Ketidakpastian Pasokan Global
Internasional

Urgensi Pengembangan Energi Alternatif di Tengah Ketidakpastian Pasokan Global

Ruang Press - Rencana penutupan Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasokan energi global dan menekan ketahanan energi Indonesia. Sumber energi alternatif mesti segera didorong.

Kenaikan harga minyak mentah dalam dolar juga berisiko memperlebar defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan. Sementara itu, cadangan energi nasional dinilai masih terbatas untuk menahan gejolak berkepanjangan.

Selain minyak, jalur tersebut juga menjadi lintasan utama pasokan LNG dan LPG global. Indonesia sendiri masih mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan LPG.

“Kalau jalur ini terganggu, ketahanan energi rumah tangga dan UMKM ikut terancam. Bisa terjadi kelangkaan dan lonjakan harga,” jelas Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu.

Tak hanya energi, distribusi pupuk dunia juga berpotensi terganggu. Sekitar 43 persen ekspor urea global berasal dari kawasan Teluk. Jika pasokan tersendat, biaya produksi pertanian meningkat dan harga pangan ikut terdorong naik.

Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China sangat rentan karena sekitar 80 persen impor energinya melewati Selat Hormuz. Dampaknya bisa meluas pada perlambatan ekonomi global.

Dampak lanjutannya terhadap sistem kelistrikan nasional. Selain berbasis minyak, pembangkit listrik Indonesia masih didominasi batubara. Jika harga batubara ikut melonjak dan subsidi tak mampu menutup kenaikan biaya, kapasitas pembangkitan bisa terganggu.

You can share this post!