Yayasan Amai Setia, yang kini telah berusia 115 tahun, berperan sebagai jembatan bagi perempuan dalam meraih kemajuan melalui pendidikan dan keterampilan. Pernyataan ini disampaikan oleh Pimpinan Yayasan Amai Setia, Trini Tambu, dalam wawancara yang berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2026.
Trini menegaskan pentingnya akses pendidikan bagi perempuan, dengan menekankan bahwa tidak ada alasan untuk menghalangi mereka memasuki sekolah. "Dengan bersekolah, perempuan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi bangsa," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa jauh sebelum istilah emansipasi populer di Indonesia, surat kabar Sounting Melajoe telah lebih dulu mengangkat suara perempuan. Roehana Koeddoes, sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia, tidak hanya menulis opini, tetapi juga mengeluarkan manifesto yang menyerukan perlunya ruang edukasi yang setara bagi perempuan.
Trini menjelaskan bahwa pemikiran dan perjuangan Roehana Koeddoes, yang lahir di Koto Gadang, sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya dan pola didik keluarganya yang menjunjung tinggi pendidikan. Dengan tekad yang kuat, Roehana bahkan menjadikan halaman rumahnya sebagai tempat belajar bagi anak-anak perempuan di desanya.
Walaupun menghadapi berbagai tantangan dan cemoohan, Roehana Koeddoes tetap gigih dalam memperjuangkan pendidikan untuk perempuan. Dari ruang redaksi yang dipimpinnya, ia membangun infrastruktur emansipasi, menciptakan ruang di mana perempuan dapat menjadi narator utama dalam pembangunan bangsa dan negara.