Ruang Press - Pasar minyak global terhindar dari skenario kekurangan yang parah setelah gangguan pasokan di wilayah Teluk, tetapi penyusutan cadangan yang drastis di banyak negara menimbulkan tantangan baru bagi keamanan energi.
Pada bulan-bulan awal konflik, pasar minyak menghadapi tekanan signifikan karena aliran pasokan dari Teluk terpengaruh. Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk minyak mentah dan gas alam dari Timur Tengah ke seluruh dunia, menjadi titik fokus perhatian karena transportasi dan ekspor di wilayah tersebut terganggu.
Menurut Badan Energi Internasional, ini adalah salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak. Pada puncaknya, gangguan pasokan mencapai sekitar 14 juta barel per hari. Selama beberapa bulan, pasar harus mengkompensasi kekurangan lebih dari satu miliar barel minyak.
Namun, skenario krisis bahan bakar yang meluas tidak terwujud. Harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar $126 per barel pada bulan April, tetapi kemudian mereda seiring penyesuaian pasokan, beberapa aktivitas transportasi secara bertahap pulih, dan negara-negara konsumen utama menggunakan cadangan mereka untuk menstabilkan pasar.
Salah satu alasan utamanya adalah sistem energi global telah menjadi lebih tangguh dibandingkan krisis minyak sebelumnya. Menurut John Baffes, ekonom senior di Bank Dunia, pergerakan harga menunjukkan bahwa pasar memandang guncangan pasokan sebagai hal yang serius, tetapi masih dapat dikelola. Hal ini mencerminkan fakta bahwa banyak negara telah mengurangi ketergantungan mereka pada minyak dan memiliki lebih banyak alat untuk merespons ketika terjadi gangguan pasokan.
Selain itu, beberapa negara penghasil di kawasan Teluk telah mempertahankan ekspor melalui jalur alternatif, sehingga mengurangi tekanan pada Selat Hormuz. Dari sisi permintaan, Tiongkok juga telah berkontribusi mendinginkan pasar dengan menyesuaikan pembeliannya, memanfaatkan cadangan besarnya, dan lebih fleksibel dalam operasi penyulingannya.
Menurut Ilia Bouchouev, seorang ahli di Oxford Institute for Energy Studies, China memiliki lebih banyak ruang untuk bermanuver selama periode fluktuasi harga minyak berkat cadangan minyaknya yang besar, kemampuan untuk menyesuaikan operasi penyulingan, dan perkembangan pesat kendaraan listrik. Badan Informasi Energi AS memperkirakan bahwa China akan memiliki hampir 1,4 miliar barel cadangan minyak pada akhir tahun 2025, yang tertinggi di dunia.
Penarikan minyak dari cadangan oleh negara-negara anggota Badan Energi Internasional dan beberapa negara lain juga membantu pasar untuk mendapatkan kompensasi tambahan dalam jangka pendek. Minyak cadangan ini membantu membatasi risiko kenaikan harga bahan bakar yang terlalu cepat, sekaligus memberikan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan jalur pasokan.
Namun, stabilitas saat ini bukan berarti pasar telah sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum krisis. Beberapa infrastruktur energi di kawasan ini masih membutuhkan waktu untuk diperbaiki, sementara aktivitas pengiriman di jalur laut utama belum pulih ke tingkat normal.
Masalah yang lebih besar adalah cadangan minyak global telah anjlok. Cadangan ini berfungsi sebagai penyangga bagi negara-negara untuk mengatasi guncangan pasokan. Dengan jumlah minyak yang ditarik dalam jumlah besar, pemerintah harus mempertimbangkan kapan dan berapa biaya yang dibutuhkan untuk mengisinya kembali.
Menurut Badan Energi Internasional, persediaan minyak global menurun secara signifikan selama periode gangguan pasokan. Hanya dalam bulan Maret dan April saja, persediaan global yang teramati turun masing-masing sebesar 129 juta barel dan 117 juta barel. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasar telah mengatasi guncangan tersebut, sebagian dengan memanfaatkan cadangan minyak yang tersedia.
Memulihkan cadangan tidak akan mudah. Membeli saat harga minyak tinggi dapat meningkatkan biaya anggaran dan biaya bagi perusahaan energi. Mengingat besarnya jumlah minyak yang digunakan selama krisis, jumlah yang dibutuhkan untuk memulihkan cadangan dapat mencapai puluhan miliar dolar.
Bank Sentral Eropa meyakini prospek jangka menengah untuk harga minyak tetap tidak pasti. Harga energi terus menjadi faktor potensial yang memengaruhi inflasi di zona euro, terutama mengingat volatilitas harga minyak mentah, penyulingan, dan biaya distribusi bahan bakar.
Menurut beberapa ahli energi, pasar minyak telah melewati guncangan awal lebih baik dari yang diperkirakan, tetapi memulihkan persediaan dan menstabilkan jalur pasokan masih membutuhkan waktu. Ke depannya, harga minyak akan bergantung pada kecepatan pemulihan pasokan, permintaan di negara-negara ekonomi utama, dan rencana negara-negara konsumen untuk mengisi kembali persediaan.