Ruang Press - Di SMK Karya Rini, momen puasa tidak pernah menjadi perjalanan yang sunyi atau eksklusif bagi satu golongan saja. Ketika bulan suci tiba, sekolah ini mengubah dirinya menjadi sebuah laboratorium kerohanian yang inklusif melalui program " Pesantren Kilat" yang merangkul dua kelompok iman sekaligus: Kristiani dan Muslim. Ini adalah kisah tentang bagaimana rasa lapar yang ditahan bermuara pada satu muara yang sama, yaitu cinta kasih dan kedewasaan batin.
Dapur Harmoni: Berkat dalam 650 Porsi Sukacita
Jauh sebelum materi kerohanian dikupas di ruang-ruang kelas, denyut kebersamaan sudah terasa hangat di dapur. Dapur yang biasanya menjadi kawah candradimuka bagi para siswa dan siswi untuk mempraktikkan keahlian vokasi mereka, hari itu beralih fungsi menjadi "dapur amal".
Para ibu guru dan karyawan sekolah berjibaku menyiapkan tak kurang dari 650 takjil dan nasi boks untuk umat yang akan berbuka puasa. Di bawah komando dan koordinasi yang apik dari Ibu Eko, didukung tenaga-tenaga andal dalam meracik bumbu Ibu Andri, Ibu Umu serta Ibu Warti, urusan logistik raksasa ini berjalan dengan sangat lancar.
Keringat yang menetes di dapur tidak dirasakan sebagai beban, melainkan ibadah. Pada akhirnya, setiap butir nasi dan manisnya takjil yang tersaji menjadi berkat ganda: berkat bagi mereka yang meracik dan memasaknya dengan penuh cinta, serta berkat bagi mereka yang menerima dan memakannya.
"Tangan rasanya sampai keriting mengiris ratusan bumbu, tapi begitu melihat ratusan kotak nasi ini berjejer rapi dan siap dibagikan, capeknya langsung hilang. Rasanya ikut nyess di hati, bahagia luar biasa," ujar Ibu Eko diiringi anggukan setuju dan tawa renyah dari Ibu Atiek dan Ibu Eka yang masih sibuk membungkus acar.
Terima kasih atas dedikasi yang terwujud dalam dentingan pisau di atas talenan saat merajang bawah dan acar, juga kaki-kaki yang pegal karena harus bergerak dari satu sudut ke sudut yang lain.
Kelompok Muslim: Menjemput Masa Depan dengan "DUIT" dan Adab
Sementara kesibukan dapur merangkai harmoni di balik layar, sebagian panitia dan para siswa menyelami kedalaman batin di ruangan masing-masing. Di kelompok Muslim, di bawah koordinator Pak Deden Juansa Putra dan Ibu Maulida Aprilia Ma'ruf (keduanya guru agama Islam), para siswa dan siswi diajak untuk merefleksikan tema yang sangat relevan bagi Gen Z:"Sukses with Baraqah: Menjemput Masa Depan dengan Skill dan Iman".
Untuk membedah tema ini, sekolah mendatangkan Ustadz Nurul Ainulhag Tiara Putra yang membagikan wawasannya ke dalam dua sesi yang memikat. Pada sesi pertama, para siswi diperkenalkan pada konsep "DUIT", sebuah akronim spiritual yang bermakna Doa, Usaha, Ikhlas, dan Tawakal.
Di sesi kedua, materi beranjak pada "Adab dan Rasa: Membangun Karakter Muslim Profesional yang Dewasa". Melalui sesi ini, puasa dipahami sebagai wadah penempaan diri agar kelak mereka tidak hanya menjadi lulusan yang mahir secara teknis, tetapi juga pekerja profesional yang berakhlak mulia dan beradab.