Konflik Timur Tengah Uji Ketahanan Energi Indonesia
Internasional

Konflik Timur Tengah Uji Ketahanan Energi Indonesia

Ruang Press - waktu baca 2 menit

Purwokerto, Jateng (ANTARA) - Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Muhammad Yamin menilai konflik di Timur Tengah menjadi ujian serius bagi ketahanan energi Indonesia di tengah ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan volatilitas harga energi global.

"Konflik di Timur Tengah bukan hanya persoalan geopolitik regional, tetapi langsung menguji ketahanan energi Indonesia karena struktur impor kita masih sangat besar," kata Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Ia mengatakan eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu gangguan distribusi energi global, terutama jika berdampak pada jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Menurut dia, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut hampir pasti mendorong lonjakan harga minyak mentah.

Bagi Indonesia yang masih mengimpor sekitar 50 persen kebutuhan minyaknya, kata dia, kondisi tersebut akan berdampak langsung pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Setiap kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi APBN akan menambah beban subsidi dan kompensasi energi. Pemerintah berada dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas harga dalam negeri atau mengendalikan defisit fiskal," katanya.

Selain tekanan fiskal, kata dia, lonjakan harga energi juga berpotensi memicu inflasi karena biaya transportasi dan logistik meningkat.

Menurut dia, dampak lanjutannya berupa kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok yang dapat menggerus daya beli masyarakat.

Ia mengatakan gejolak energi global juga kerap diikuti tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik karena investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman saat ketidakpastian meningkat.

Ia menilai situasi tersebut harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat diversifikasi sumber impor minyak.

"Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan ekonomi. Selama ketergantungan impor masih tinggi, setiap gejolak geopolitik global akan langsung terasa di dalam negeri," kata Yamin.

Baca juga: DEN bahas dampak konflik AS-Iran terhadap pasokan energi nasional

Baca juga: Lebih 700 tanker antre, aliran minyak di Selat Hormuz turun 86 persen

Baca juga: BI terus cermati risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia

Pewarta: Sumarwoto

Editor: Kelik Dewanto

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

You can share this post!