Ruang Press - Paske Modaso, S.E., M.Si., Dosen ABK Primaniyarta Manado
Kabarprima.com – Perang yang berkecamuk antara Iran dan Amerika Serikat, yang semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir, mulai menunjukkan dampak besar pada ekonomi global. Konflik ini tidak hanya memengaruhi hubungan politik antara kedua negara, tetapi juga mengubah dinamika ekonomi dunia, khususnya dalam sektor energi.
Paske Modaso, S.E., M.Si., akademisi dari Akademi Bisnis dan Keuangan (ABK) Primaniyarta Manado, menyatakan bahwa konflik ini memiliki dampak signifikan terhadap ketersediaan energi global, khususnya minyak. Ia menyebutkan bahwa pertempuran yang terjadi saat ini dapat mengganggu distribusi dan pasokan energi, yang pada akhirnya akan memengaruhi harga energi secara keseluruhan.
“Eskalasi yang terjadi saat ini di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi, khususnya minyak, yang pada akhirnya akan mempengaruhi harga energi di pasar global,” ungkap Paske.
Menurutnya, harga minyak mentah telah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebutkan bahwa pada 2 Maret 2026, harga minyak mentah per barel tercatat naik hampir 6%, mencapai sekitar 70,5 USD, dan diperkirakan akan terus mengalami lonjakan.
Paske menjelaskan bahwa Iran, sebagai salah satu penghasil minyak terbesar di dunia, memiliki peran penting dalam rantai pasok energi global. Ia juga menambahkan bahwa gangguan pasokan minyak dari Iran akibat perang ini diperkirakan akan memperburuk ketegangan di pasar energi dan menyebabkan lonjakan harga energi, karena distribusi yang sebelumnya bergantung pada Iran kini terhambat.
Paske yang merupaka Kepala Program Studi Bisnis Digital, menjelaskan bahwa kenaikan harga energi, terutama minyak, tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga pasar keuangan. Ia menyatakan bahwa banyak investor yang, karena ketidakpastian akibat perang ini, beralih ke aset yang lebih stabil seperti emas, obligasi pemerintah, atau dolar AS, yang menyebabkan pasar menjadi semakin volatile.
Indonesia, sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, tentu akan merasakan dampak signifikan akibat lonjakan harga energi ini. Paske menjelaskan bahwa Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 0,8 juta barel minyak per hari, sementara kebutuhan domestiknya mencapai 1,7 juta barel per hari.
“Artinya, Indonesia mengimpor hampir 50% dari kebutuhan minyak dalam negeri. Ketergantungan ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global,” katanya.
Paske memperingatkan bahwa lonjakan harga energi akan menambah tantangan bagi pemerintah Indonesia dalam menjaga kestabilan ekonomi. Ia menyatakan bahwa harga energi yang semakin tinggi akan berdampak pada anggaran negara, khususnya dalam hal subsidi energi, dan pemerintah perlu bersiap menghadapi inflasi yang meningkat akibat kenaikan harga tersebut.
Dosen ABK Primaniyarta itu menjelaskan bahwa sektor-sektor yang bergantung pada energi, seperti transportasi, manufaktur, dan pertanian, akan terdampak oleh lonjakan harga energi. Ia menyebutkan bahwa peningkatan biaya di sektor-sektor ini akan memengaruhi harga barang dan menurunkan daya beli masyarakat.
Paske memperkirakan bahwa dampak perang ini akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang, dengan ancaman resesi ekonomi global yang semakin jelas. Ia juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam mengatasi resesi, seperti yang terlihat saat krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19, dan meskipun dampaknya besar, Indonesia bisa memanfaatkan pengalaman tersebut untuk bertindak dengan cepat.
Paske menyarankan pemerintah Indonesia untuk menstabilkan ekonomi dengan mengalihkan subsidi energi kepada masyarakat yang terdampak dan menyesuaikan APBN, serta memperkuat cadangan devisa dan melakukan intervensi pasar. Di sisi jangka panjang, ia menekankan pentingnya mempercepat transisi ke energi terbarukan, seperti bioenergi dan energi surya, untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan dampak fluktuasi harga energi global.
Paske berharap pemerintah dapat mempercepat elektrifikasi sektor transportasi dan memperkuat kapasitas kilang minyak domestik. Ia menjelaskan bahwa mengurangi ketergantungan pada impor energi akan meningkatkan ketahanan energi Indonesia dan mengurangi dampak negatif dari lonjakan harga minyak.
Berita Pilihan
Brilliant Brain Indonesia, Sukses Laksanakan Inagurasi 1
Astaga, Bangkai Ayam Ratusan Ekor Dibuang di Pinggir Jalan Gunung Potong
Diduga Menghina Talaud, Wali Kota Manado Dipolisikan
Tiang Listrik Jadi Korban Politik di Manado
Lambat Mengungkap Kasus Kematian Seorang Jurnalis, AJI Manado Duga “Ada Keterlibatan Orang Besar”.
Meskipun Mulai Membaik, Namun Kualitas Udara Jakarta Masih Dikategorikan Tidak Sehat
BBI Pusat Sarapung, Sukses Laksanakan Try Out Pertama. Ini Harapan CEO
Viral, Siswa Peraih Juara 1 Renang di Tomohon, Kecewa Tidak Ikut Lomba O2SN Tingkat Provinsi
Berita Terbaru
Fitur Baru Instagram: Caption Berbeda di Setiap Slide Carousel
Kemendikdasmen Perkenalkan MPLS Ramah 2026, Ciptakan Lingkungan Sekolah Menyenangkan Tanpa Perpoloncoan
ABK Primaniyarta Manado Gelar Yudisium ke-4, dorong mahasiswa dalam kompetensi dan kesiapan lulusan
Bukan Cuma Protein! Ini Perbedaan Nutrisi Putih vs Kuning Telur
Tren Fashion Mahasiswa di Era TikTok: Antara Gaya dan Ketergantungan Digital
Mau FYP? Coba 7 Ide Konten yang Lagi Ramai Dibicarakan Warganet Saat Ini
Ciptakan Generasi Unggul, Kemdiktisaintek Dorong Transformasi Pendidikan Tinggi
Tidak Semua Visa Sama, Kenali Jenis-Jenis Visa Seusai Penggunaannya
Komentar
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment *
Name *
Email *
Website
Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.