Komunitas Madura Kristen di Paleran: Simbol Toleransi dan Persaudaraan
Sosial

Komunitas Madura Kristen di Paleran: Simbol Toleransi dan Persaudaraan

Ruang Press - JEMBER, KOMPAS.com - Jauh dari keramaian kota, di Dusun Paleran, Desa Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, berdiri sebuah gereja kecil yang menyimpan kisah besar tentang toleransi.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepanthan Paleran, cabang dari GKJW Sumberpakem yang telah berusia 142 tahun, menjadi rumah rohani bagi 45 kepala keluarga atau sekitar 125 jiwa umat Madura Kristen.

Di sinilah toleransi bukan sekadar kata-kata, melainkan cara hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

Segalanya bermula dari seorang kepala keluarga. Sediman, seorang pria Madura, datang ke wilayah ini dan menetap. Dari lima anaknya, tiga berkembang menjadi cikal bakal jemaat.

Kini, dari satu keluarga itu, komunitas Kristen Madura di Paleran telah berkembang menjadi 45 KK, sebuah pertumbuhan yang berlangsung perlahan selama puluhan tahun.

Bahasa Madura

Salah satu keistimewaan dari kampung Madura Kristen di utara Jember ini adalah penggunaan Alketab, yang merupakan Alkitab dalam bahasa Madura.

Ibadah mingguan pun digelar bergantian, di mana Minggu pertama menggunakan bahasa Madura dan Minggu kedua bahasa Indonesia.

Praktik ini menjadikan GKJW Paleran sebagai satu-satunya komunitas Madura Kristen yang secara aktif menggunakan Alketab dalam ibadah mereka.

Keunikan ini menarik perhatian jauh melampaui batas desa. Pengunjung dari Singapura, Amerika Serikat, Inggris, hingga India kerap datang untuk menyaksikan langsung bagaimana iman Kristen dirayakan dalam balutan identitas dan bahasa Madura.

"Di Madura sendiri ada juga orang GKJW, Kristen juga, tapi tidak memakai Alketab itu," ungkap Majelis GKJW Pepanthan Paleran, Winarno saat ditemui Kompas.com pekan lalu.

Toleransi di Paleran bukan sekadar absennya konflik. Ia hadir dalam bentuk undangan makan saat Lebaran dan Natal.

Saat Idul Fitri tiba, warga Kristen diundang ke rumah-rumah Muslim untuk makan bersama.

Sebaliknya, saat Natal, umat Kristen mengundang tetangga Muslim. Bukan untuk mendatangi gereja, melainkan ke rumah masing-masing umat Kristiani untuk makan dan bercengkrama.

"Jadi persaudaraannya di sini sangat kuat," ujar Winarno.

Keakraban itu juga tampak di dunia kerja. Warga Kristen dan Muslim saling membantu di ladang tanpa memilih-milih latar belakang agama yang mereka anut.

Grup Keparat

KOMPAS.com/Diki Febrianto Majelis Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Winarno.

Jauh dari itu, komunitas ini juga memiliki kelompok sosial bernama Grup Keparat, singkatan dari Keluarga Peduli Alam Sekitar Adat Istiadat.

Selama lebih dari 10 tahun, grup ini bergerak di bidang kemanusiaan tanpa memandang agama anggota maupun penerimanya.

Grup Keparat pernah hadir selama tiga hari tiga malam di lokasi gempa di Malang. Mereka juga turun ke Semeru saat banjir lahar menimpa rumah-rumah warga dan membawa bantuan sembako serta tenaga.

“Jadi kalau ada bencana di mana pun, ada korban yang membutuhkan, kami harus berangkat."

"Baik gempa di Malang, waktu itu kita tiga hari di sana. Bahkan di Semeru itu, Keparat berangkat untuk memberikan bantuan di rumah-rumah warga yang terkena erupsi,” imbuh dia.

Lebih dekat dari rumah, pemuda Keparat pernah mengecat masjid di ujung jalan. Di mana cat dan seluruh bahannya ditanggung penuh oleh grup yang mayoritas anggotanya umat Kristen.

"Kami tidak memilih-milih. Di mana yang membutuhkan, di situ kami datangi," kata Winarno.

Prinsip sederhana itu menjadi kompas moral komunitas kecil yang hidup di pinggiran, namun berdampak melampaui batas wilayahnya.

Di ujung perbincangan, Winarno menitipkan sebuah harapan. Bukan tentang kemewahan atau pembangunan fisik, melainkan tentang karakter.

"Mudah-mudahan nanti ke depannya, pemuda punya jiwa menurut Gereja. Mudah-mudahan terus berjaya di desa sendiri, memperkembangkan toleransi," harap Winarno.

Komunitas Madura Kristen di Paleran membuktikan bahwa identitas etnis, bahasa, dan keyakinan bukan tembok pemisah, melainkan jembatan. Bila jembatan itu dirawat dengan kasih, justru mempererat hubungan antar manusia dan manusia dengan Tuhannya.

You can share this post!