Kebersamaan dan Toleransi Warnai Ramadan di Sendawar
Sosial

Kebersamaan dan Toleransi Warnai Ramadan di Sendawar

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu menjadi bulan yang dinanti umat Muslim di berbagai penjuru negeri. Suasananya berbeda, ritmenya terasa lebih khusyuk, dan kebersamaan semakin hangat. Dari tradisi membangunkan sahur, berburu takjil, hingga tarawih berjemaah, setiap daerah memiliki warna tersendiri dalam menyambut bulan suci ini.

Di Kalimantan Timur, kemeriahan Ramadan juga terasa kuat, termasuk di wilayah Sendawar, Kabupaten Kutai Barat. Melalui program Kesah Ramadan edisi Jumat, 20 Februari 2026, pendengar diajak menyelami cerita Ramadan dari sudut berbeda bersama narasumber Nur Anisya, yang lahir dan besar di Sendawar.

Nur Anisya yang akrab disapa Nisa mengatakan Ramadan di Sendawar sebagai “wadah” kebersamaan. “Kalau dengar kata Ramadan, yang pertama terlintas itu wadai. Apalagi di Kaltim, wadai basah paling dicari,” ujarnya. Di Sendawar, aneka kue tradisional seperti hamparan tatak dan lapis Jepang menjadi primadona saat berbuka.

Tak hanya soal kuliner, tradisi membangunkan sahur juga masih lestari. Warga menggunakan galon air, wajan, hingga klakson motor untuk membangunkan masyarakat. “Mudah-mudahan tradisi membangunkan sahur itu tetap lestari. Selama bernilai baik dan bermanfaat untuk orang sekitar, kenapa tidak dijaga,” katanya.

Menariknya, Sendawar dikenal sebagai wilayah yang heterogen, dengan komposisi masyarakat Muslim dan non-Muslim yang cukup berimbang. Namun suasana Ramadan tetap berjalan aman dan penuh toleransi. “Alhamdulillah, selama saya 30 tahun di sini, masyarakatnya saling menghargai. Tidak ada yang menganggap pergerakan sahur itu mengganggu secara berlebihan,” ucapnya.

Selain itu, ada pula Festival Ramadan yang rutin digelar di Kecamatan Melak. Kegiatan ini menjadi ajang syiar sekaligus ruang pembinaan generasi muda melalui lomba azan, tahfiz, dan ceramah. Festival tersebut menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga penguatan nilai sosial dan keagamaan.

Bagi Nisa, momen paling berkesan selama Ramadan adalah kebersamaan keluarga. Intensitas buka puasa bersama dan tarawih berjemaah membuat hubungan terasa lebih erat. “Nilai yang paling terasa itu toleransi. Di sini saling menjaga, saling menghormati. Saat Ramadan maupun Natal, semuanya timbal balik,” katanya.

You can share this post!