IHSG Tertekan 0,96% akibat Sentimen Risk-Off Global dan Ketegangan Timur Tengah
Internasional

IHSG Tertekan 0,96% akibat Sentimen Risk-Off Global dan Ketegangan Timur Tengah

Ruang Press - Sektor basic materials anjlok 3,86%, transportasi turun 2,10%.

Bursa Asia melemah tajam di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Dolar AS dan imbal hasil Treasury naik, sektor energi relatif bertahan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Selasa, terbebani sentimen risk-off global di tengah eskalasi ketegangan Timur Tengah dan pelemahan bursa regional.

IHSG turun 0,96% atau 77 poin ke level 7.939, dari penutupan sebelumnya 8.016. Indeks dibuka di 8.059 dan sempat menyentuh level tertinggi 8.098 sebelum tekanan jual mendorongnya ke terendah harian di 7.932.

Pelemahan dipimpin sektor basic materials yang merosot 3,86%, diikuti sektor transportasi turun 2,10%, serta indeks BUMN (IDXMESBUMN) terkoreksi 1,78%. Di sisi lain, sektor industri naik 0,59%, sementara indeks saham berdividen tinggi (IDXHIDIV20) dan IDXVESTA28 mencatat kenaikan tipis. Sektor energi juga bertahan di zona positif, dengan IDXENERGY naik 0,24% ke 4.254.

Tekanan domestik sejalan dengan pelemahan ekuitas Asia. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 7,24%, penurunan terdalam sejak Agustus 2024, sementara Nikkei 225 Jepang turun 3,06%. Di Tiongkok, indeks Shanghai melemah 1,43%, Shenzhen merosot 3,07%, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,12%.

Sentimen pasar tertekan setelah pejabat militer AS menyatakan telah menghancurkan sejumlah fasilitas komando dan pertahanan Iran dalam operasi bersama Israel yang dimulai akhir pekan lalu. Konflik tersebut juga mengganggu pasar energi global, termasuk penghentian produksi LNG Qatar dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang memicu lonjakan tarif pengiriman.

Penguatan dolar AS turut membebani aset berisiko. Strategis Rabobank menyebut kinerja greenback mencerminkan kembali permintaan safe-haven, dengan imbal hasil Treasury AS tenor dua dan 10 tahun naik sekitar 11 basis poin, menambah kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memperumit tantangan inflasi bagi Federal Reserve.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, regulator domestik berupaya menjaga daya tarik pasar. Otoritas Jasa Keuangan memprakirakan 70-75% emiten akan memenuhi aturan free float minimum 15% pada tahun pertama penerapan, sebagai bagian dari reformasi pasar modal menyusul peringatan MSCI terkait risiko penurunan peringkat.

Secara keseluruhan, pelemahan IHSG mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global, terutama lonjakan risiko energi dan penguatan dolar AS yang memperketat likuiditas. Jika tren ini berlanjut, beban impor Indonesia berpotensi meningkat, menekan margin emiten dan mempersempit ruang kebijakan moneter, meski sektor energi relatif lebih resilien di tengah prospek kenaikan harga komoditas.

Berita terkait

Kontrak Berjangka Dow Jones Turun karena Peningkatan Penghindaran Risiko

Saham-Saham Asia Jatuh karena Risiko Perang Iran, Kospi Korea Selatan Memimpin Pelemahan

Rupiah Melemah ke 16.881, Dolar Menguat di Tengah Geopolitik dan Data Domestik

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

You can share this post!