Gubernur Maluku Tekankan Moderasi Beragama untuk Harmoni Sosial
Berita Utama

Gubernur Maluku Tekankan Moderasi Beragama untuk Harmoni Sosial

Ruang Press - AMBON, Siwalima. id - Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa mene­gas­kan, moderasi beragama, merupakan pilar utama stabilitas keamanan dan harmoni sosial di Provinsi Maluku.

Dinamika kebangsaan belakangan ini, memang dihadapkan pada berbagai tan­tangan yang membutuhkan perhatian ber­sama.

Isu-isu politik identitas hingga potensi konflik horizontal yang mengatasnamakan agama, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama.

“Untuk mengatasi persoalan ini, maka penting semua elemen masyarakat untuk mengedepankan moderasi beragama dalam kehidupan di Maluku,” ucap gubernur kepada wartawan di Kantor Gubernur, Senin (2/3).

Moderasi beragama menurut gubernur, bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan agama seseorang dan bukan pula upaya untuk mencampuradukkan ajaran semua agama menjadi satu, melainkan cara pandang, sikap dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengambil posisi tengah.

Sebaliknya moderasi beragama merupakan upaya untuk mewu­judkan keseimbangan antara pengamalan ajaran agama sendiri dan penghormatan terhadap praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan.

Maluku kata gubernur, memiliki modal sosial luar biasa yang dapat digunakan sebagai perekat sosial, yaitu pela gandong, dimana pela mengajarkan ikatan persaudaraan antara negeri-negeri yang berbeda agama sebagai ikatan sakral yang diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang ini.

“Ini adalah bentuk moderasi beragama yang telah membumi di Maluku, jauh sebelum istilah ini populer dan sebagai gubernur saya meyakini, bahwa moderasi beragama adalah pilar utama stabilitas dan harmoni sosial di daerah tercinta ini,” ucap gubernur.

Moderasi beragama menurut gubernur, diperlukan guna mencip­takan rasa aman bagi setiap pe­meluk agama dalam menjalankan ibadahnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa terancam oleh kelompok lain dan pada akhirnya stabilitas akan tercipta.

Dalam konteks Maluku yang majemuk, kerukunan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap final tetapi harus dirawat setiap hari. Artinya sikap moderat membuat lebih mudah berdialog, lebih mudah mencari titik temu dan lebih mudah menyelesaikan masalah secara damai.

“Peradaban besar selalu dibangun diatas fondasi toleransi dan dialog. Maluku bisa menjadi contoh bagi Indonesia dan dunia, bahwa masyarakat yang berbeda agama bisa hidup rukun, mem­bangun peradaban bersama dan saling mengisi,” jelasnya.

Untuk mencapai kerukunan di Maluku, gubernur mengajak selu­ruh elemen masyarakat untuk menjadi garda terdepan dalam menyejukkan umat dengan me­nyampaikan pesan-pesan kasih sayang, persatuan dan kebang­saan, sehingga tidak ada ruang bagi menyebarkan kebencian atau merendahkan keyakinan lain.

Gubernur menghimbau masya­rakat, agar jangan mudah terpro­vokasi oleh berita-berita hoaks yang sengaja disebarkan untuk memecah belah, sebaliknya jadilah agen-agen perdamaian di media sosial maupun masyarakat.

“Mari kita rawat kembali warisan leluhur kita. Hidop orang basudara bukan sekadar slogan. implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bantulah tetangga yang sedang kesusahan, tanpa melihat apa sukunya, ras dan agamanya,” ajak gubernur. (S-20)

You can share this post!