Gangguan Selat Hormuz Ancam Ketahanan Energi Indonesia
Internasional

Gangguan Selat Hormuz Ancam Ketahanan Energi Indonesia

Ruang Press - FAJAR, MAKASSAR — Rencana penutupan Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasokan energi global dan menekan ketahanan energi Indonesia. Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu, menegaskan bahwa gangguan di jalur strategis tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, kelangkaan gas, hingga risiko pemadaman listrik di dalam negeri.

Menurut Bachtiar, Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia yang menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia. Pada bagian tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 2 mil laut atau sekitar 3,2 kilometer dan berada dalam pengaruh Iran.

“Sekitar 21 juta barel minyak per hari atau kurang lebih 20 persen kebutuhan minyak dunia melewati jalur itu. Bukan hanya minyak, sekitar 20 persen pasokan LNG dunia juga melintas di sana,” ujarnya.

Jika terjadi pembatasan atau larangan pelayaran, kapal-kapal pengangkut energi enggan melintas karena risiko tinggi. Premi asuransi melonjak dan biaya distribusi meningkat. Dalam kondisi pasokan turun sementara permintaan tetap, harga energi global hampir pasti terdorong naik.

Bachtiar menjelaskan, Indonesia saat ini masih menjadi net importir minyak. Dari kebutuhan sekitar 1,4 juta barel per hari, produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Sisanya dipenuhi melalui impor, yang sebagian jalurnya melewati kawasan tersebut.

Jika harga minyak dunia melonjak dari kisaran USD 70 per barel menjadi USD 100, bahkan berpotensi menembus USD 150 bila krisis berlangsung lebih dari sebulan, dampaknya akan sangat besar.

You can share this post!