Ardit Erwandha Bertransformasi dalam Drama 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
Hiburan

Ardit Erwandha Bertransformasi dalam Drama 'Tunggu Aku Sukses Nanti'

Ruang Press - AKTOR dan komika Ardit Erwandha berbagi kisah emosional di balik layar film terbarunya, Tunggu Aku Sukses Nanti. Film ini menjadi panggung pembuktian bagi Ardit yang selama ini lekat dengan citra jenaka, untuk bertransformasi total menjadi sosok pemeran utama dalam balutan drama yang menguras air mata.

Diproduksi oleh Rapi Films bekerja sama dengan Legacy Pictures, Screenplay Films, dan Vortera Studios, film besutan sutradara Naya Anindita ini menempatkan Ardit sebagai Arga. Ia adalah sosok pemuda perintis yang memikul beban ekspetasi keluarga di pundaknya.

Merasa 'Dijebak' dalam Labirin Drama

Kepada Tempo pada Rabu, 4 Maret 2026, Ardit menceritakan bahwa awalnya ia mengira proyek ini adalah film komedi drama dengan porsi tawa yang dominan. Namun, ekspektasi itu perlahan luruh saat ia mulai menyelami naskah dan masuk ke lokasi syuting.

"Waktu casting, Naya bilang ini film komedi drama. Saya pikir bakal banyak lucu-lucunya. Eh, pas syuting kok sedih terus, drama terus. Begitu baca naskah utuh, saya baru sadar, komedinya bukan di bagian saya. Saya benar-benar dijebak sama Naya, dia ketawa saja pas saya tanya mana lucu-lucunya," ujar Ardhit sambil tertawa.

Meski merasa "tertipu", Ardit justru merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kualitas aktingnya. Ia mengaku memiliki ketakutan besar jika penonton selalu berekspektasi akan ada lelucon setiap kali wajahnya muncul di layar. ”Nah ketakutannya itu orang berharap ada komedi dari saya setiap saya tampil di layar," ujarnya.

Penyesuaian Fisik

Menjadi pemeran utama yang muncul di hampir 90 persen durasi film menuntut dedikasi fisik yang tak main-main. Arga digambarkan sebagai seorang perintis yang hidupnya habis di jalanan dan transportasi umum. Demi menghidupkan karakter ini, Ardit rela menurunkan berat badan hingga 5 kilogram.

"Ada itu saya nurunin 5 kilogram untuk jadi Arga karena secara karakter Arga ini enggak kepikiran buat olahraga untuk hidup sehat karena dia mikirnya ya hidup-hidup ajalah santai," ucap Ardit.

Totalitas ini bahkan merambah hingga detail teknis di lokasi syuting. Ardit menceritakan pengalaman saat adegan di dalam kereta, di mana tim make-up dilarang menyentuh wajahnya. "Sama Naya dibilang 'sudah enggak usah di- touch up, biar wajahnya berminyak asli saja karena habis naik kereta subuh. Biar kelihatan nyata leceknya," ungkapnya.

Beradu Akting dengan Para Senior

Beban Ardit semakin berat saat mengetahui deretan pemeran pendukung yang mendampinginya adalah aktor-aktor kawakan. Film ini bertabur bintang seperti Lulu Tobing, Sarah Sechan, Niniek L. Karim, Ariyo Wahab, hingga talenta muda seperti Maudy Effrosina, Adzana Ashel, dan penampilan spesial dari Afgan.

Ardit mengaku sempat minder harus berhadapan dengan nama-nama besar tersebut. Ia khawatir kemampuannya tidak mampu mengimbangi "sinar" dari para aktor yang ia sebut sebagai 'pesugihan film' karena kualitas mereka yang luar biasa.

"Pasti ada ketakutan, apakah skill saya mampu? Takutnya orang nonton terus bilang, 'harusnya pemerannya bukan dia'. Tapi untungnya karakter Arga memang orang yang minderan, jadi saya tidak perlu berakting untuk terlihat minder," ungkap Ardit.

Optimisme di Musim Lebaran

Film Tunggu Aku Sukses Nanti dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada Rabu, 18 Maret 2026, tepat di tengah keriuhan momen libur Lebaran. Menghadapi persaingan ketat dengan film-film lainnya, Ardit tetap tenang dan menjaga optimismenya. Ia memiliki filosofi tersendiri soal bagaimana sebuah karya bertemu dengan penikmatnya.

"Saya percaya, sama seperti peran yang akan mencari aktornya, film pun akan menemukan penontonnya sendiri. Setiap film sudah diciptakan untuk pasarnya masing-masing," tutur Ardit yakin.

Bagi Ardit, keberhasilan film ini nantinya bukan diukur dari siapa yang paling unggul di tangga box office, melainkan bagaimana film Indonesia secara kolektif bisa berjaya di rumah sendiri. Ia tidak melihat judul lain sebagai ancaman, melainkan sebagai kawan seiring dalam merayakan kebangkitan sinema lokal.

"Saya pribadi senang melihat film Indonesia menjadi raja di negara sendiri saat Lebaran. Bagi saya, tidak perlu merasa bersaing; bisa bersanding dengan karya-karya hebat lainnya saja sudah merupakan suatu kehormatan," katanya.

You can share this post!